Tuesday, September 16, 2014

Wonderful Indonesia: Alasan Tepat Bepergian ke Raja Ampat

Story by. Ahmad Yani Hasti

Begitu banyak pertimbangan mengapa Raja Ampat pantas mengisi daftar perjalanan anda. Dimana para pelancong dari berbagai belahan dunia berdatangan. Alasan yang sama mengapa saya ingin menjadi bagian perjalanan menjelajahi keindahan tersembunyi di Timur Indonesia tersebut.


Source: remotelands.com
Raja Ampat memiliki kesenangan yang disebut keindahan alam. Pemandangan yang terlihat dari dataran tinggi di kawasan Raja Ampat benar-benar menawan mata. Pandangan para turis akan tertawan dengan keindahan alam yang dihadirkan di sana, khususnya keindahan pemandangan bawah lautnya.

Raja Ampat menjadi kabupaten di Papua Barat yang mampu bersaing dalam kancah pariwisata internasional. Terdiri atas gugusan-gugusan pulau besar dan kecil yang jumlahnya melebihi 600 pulau. Sebanyak 35 pulau yang telah berpenghuni, sementara sebagian besar belum dieksplorasi dan masih perawan. Ada empat pulau besar yang namanya dikaitkan dengan mitos warga setempat dan menjadi cikal-bakal penamaan Raja Ampat. Diantaranya Pulau Misool, Salawati, Batanta, dan Waigeo.

Pulau-pulau di kawasan Raja Ampat ini jadi tempat beraneka ragam spesies hewan berkembang biak dan berbagai jenis tanaman bertumbuh. Sementara itu, wilayah laut Raja Ampat yang luasnya lebih kurang 80 persen juga menjadi surga bagi banyak biota laut. Keragaman merupakan kunci bagaimana membuka pintu kesenangan bagi perjalanan anda selama di Raja Ampat.

Para ahli yang datang dari Conservation International, The Nature Conservancy, dan Lembaga Oseanografi Nasional pernah melakukan riset pada 2001 dan 2002 di sana. Mereka mencatat lebih 540 jenis karang, 1.000 lebih spesies ikan, dan 700 jenis moluska yang hidup di Raja Ampat. Daftar biota laut tersebut mengukuhkan kabupaten Raja Ampat sebagai situs penyelaman bertaraf internasional. Diklaim memiliki 75 persen spesies karang yang ada di dunia. Dan tak satupun kawasan dengan luas area yang sama memiliki spesies karang sebanyak itu.

Usaha konservasi terus digiatkan guna melestarikan biota laut di sana. Bahkan sampai saat ini, rute transportasi laut yang melintasi Raja Ampat dibatasi demi mendukung usaha itu. Hal seperti ini tentu membuat anda harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengakses tempat tersebut. Namun sisi terbaiknya, cara demikian dilakukan justru untuk menjaring pengunjung yang berdatangan. Biaya besar yang harus dikeluarkan mendorong calon pengunjung agar mampu mengakses informasi yang tepat mengenai tempat tersebut. Sehingga hanya pengunjung yang berkualitaslah yang mungkin datang ke Raja Ampat. Cara itu dipandang bisa membantu untuk menjaga kelestarian biota laut di sana.

Source: remotelands.com
Sejumlah penyelam mancanegara yang berhasil ke sana pun memberikan pengakuan positif terhadap Raja Ampat. Dianggap salah satu situs penyelaman terbaik yang ada di dunia dan mengapresiasinya sebagai situs terkaya akan biota lautnya.

Bagi mereka yang tak pandai menyelam ataupun berenang seperti saya. Tak perlu bimbang! Tempat ini menjamin kesenangan bagi wisatawan dengan pilihan perjalanan menarik lainnya. Misalnya melintasi pulau dengan perahu sambil melihat-lihat pemandangan. Atau anda ingin menjelajahi langsung pulau-pulau tersebut dan berada di ketinggian. Pemandangan tempat ini begitu asri dan indah untuk dinikmati wisatawan pecinta alam dan penggila fotografi.

Coba buktikan dengan mengakses nama Raja Ampat di internet. Seketika gambar-gambar hasil jepretan sejumlah fotografer dunia bermunculan dan bisa memesona anda seperti saya. Mulai dari fotografer amatir hingga profesional, jepretannya mampu menunjukkan keindahan Raja Ampat dengan baik. Entah yang nampak di bawah laut ataupun daratannya, keindahan itu mampu membius dan menggoda orang-orang datang ke sana. Minimal begitu yang kurasakan. Dan saya pribadi berharap memiliki kesempatan, setidaknya sekali dalam hidupku bisa bertandang ke sana.

By. Adam Plezer/ Source: vimeo.com
Adanya kehidupan alam liar dengan beragam spesies langka dan endemik di sana juga menambah daftar rangkaian perjalanan anda. Akan ada berbagai jenis burung dan mamalia yang mungkin baru pertama kali anda temui. Anda pun dapat mengunjungi gua kelelawar atau ikut serta memberi makan kuskus.

Tak berhenti sampai di situ, Raja Ampat juga menjanjikan pengalaman baru dengan perjalanan budaya yang sulit untuk dilupakan. Dengan tur perjalanan tertentu, anda akan diajak memancing. Yang istimewa karena kita akan menggunakan tehnik tradisional ala Papua dan dibantu oleh penduduk aslinya. Selain itu, anda juga akan membuat patung kayu sendiri dibimbing seniman suku asmat yang menetap di sana.

Mangarungi pulau-pulau dengan berperahu, menyelam, berenang, snorkeling, memotret pemandangan alam, melihat-lihat cendrawasih, mengunjungi gua kelelawar, memberi makan kuskus, perjalanan budaya. Semua rangkaian perjalanan itu, bukankah membuat anda merasa benar-benar jauh dan terlepas dari segala hiruk-pikuk dunia. Jika anda menginginkan itu, Raja Ampat layak mendapat tempat dalam agenda perjalanan anda. Bukan begitu?

Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Raja_Ampat
http://indonesia.travel/id/destination/248/raja-ampat

Sunday, August 3, 2014

Mari Kumpul dan Berwisata ke Bedugul

Sejatinya, ini merupakan kisah perjalanan ke Bali bersama beberapa rekan kerja dari kantorku. Terima kasih untuk yang saya hormati Bapak Izaac Lawalata, Koko Yoppy Yunus, Bunda Darmawati Mansyur, Bunda Ipa Mahmud bersama keluarga, teman-teman dekatku Sugianto Tahir, Arman, Ansar, Rezki Prayoga, si Cantik Anita, yang luar biasa kak Ruth Melyanie, Eka Darmayanti, serta Bunda Siti Syamsufiah dan keluarganya. Terima kasihku untuk mereka semua yang telah melengkapi perjalananku selama di Bali.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Sabtu (2 Agustus 2014), rekan-rekan kantor PT. Bank Mega Cabang Parepare melakukan foto bersama di sekitar pintu masuk Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul.
Story by. Ahmad Yani Hasti

Saya akan ceritakan satu guyonan tentang seorang pemuda yang memohon doa di depan sebuah patung. Guyon ini telah diubah dan aslinya dapat didengar lewat film Eat, Pray, and Love (2010) yang diperankan Julia Roberts. Dia berkata, “Ya Tuhan! Aku benar-benar ingin pergi ke Bali.” Tiba-tiba, patungnya bergerak dan berbicara,”Anakku! Belilah tiket! Belilah tiket! Kumohon, Belilah tiket!” Dia tersenyum dan akhirnya sadar bahwa tak ada satupun yang dapat membantunya melainkan dengan usahanya sendiri.

Demikian halnya perjalanan kali ketiga saya ke Bali. Tak pernah kuduga dengan waktu dan isi dompet yang terbatas, masih saja dapat mewujudkan jalan-jalan ke Bali untuk kedua kalinya dalam tahun ini. Tuhan membukakan jalan, dan kami mencari cara dan berusaha mewujudkan tujuan tersebut. Alhasil, dengan berbagai ide yang dituangkan teman-teman, kami akhirnya dapat baramai-ramai berangkat ke Bali.

Di awal bulan, tepat pada tanggal 1 Agustus 2014 pukul 11.00 siang, kami semua tiba di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali. Banyak yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sini, dan mereka mengaku sangat menikmati perjalanan yang ada. Kesenangan itu tidak cukup bagiku di awal perjalanan. Saya merasa kehilangan jiwa, mengingat Bedugul, tempat yang sangat ingin kutuju tidak masuk dalam rangkaian rute perjalanan yang kami tempuh.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Jumat (1 Agustus 2014), kunjungan trip hari pertama di GWK, Bali. Nona dan ibu-ibu cantik dari kantorku berpose depan Patung Dewa Wisnu. (Berjilbab ungu; Anita, Berkaos dan tas merah: Ruth Melyanie, Berpakaian hitam: Darmawati Mansyur).
Dua kali pertemuan di Bali, sebelumnya tidak pernah ada kesempatan ke Bedugul. Tak heran, saya begitu berhasrat untuk mendatangi tempat ini. Apalagi setelah mengetahui bahwa Pura Ulun Danu Beratan di Bedugul, begitu terkenal. Dan gambarnya sering digunakan dalam kalender serta media-media promosi wisata Bali. Baik dalam media cetak maupun online.

Tapi entah bagaimana, Sabtu itu (2 Agustus 2014), saya ditakdirkan untuk berkunjung ke Bedugul. Ada-ada saja masalah teknis, sehingga rute yang ada tidak dapat dilanjutkan. Dan ini menguntungkan saya. Semua rekan akhirnya sudah setuju untuk mengalihkan rute perjalanan wisatanya ke Bedugul. Kini jiwaku telah sepenuhnya kembali. Hanya senyuman di wajahku yang dapat melukiskan rasa senangku Sabtu itu.

Photo by. Sugianto Tahir --- Sabtu (2 Agustus 2014), saya berfoto berlatarkan Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul, yang nampak di belakangku. Tempat ini menarik dan nyaman untuk menikmati udara pagi dan menghabiskan senja.
Perjalanan ke Bedugul sungguh telah menjawab rasa penasaranku. Jalan ke sana dipenuhi dengan pemandangan yang menghijaukan mata. Banyak pepohonan dan tumbuhan asri bertumbuh hingga ke tepi jalan. Di sekitar kawasan Bedugul yang sejuk dan tanahnya subur, banyak ditumbuhi tanaman stroberi. Dan kalau mau, anda bahkan bisa mampir ke kebun stroberi yang ada di sana.

Selain kebun stroberi, terdapat tempat-tempat menarik lain yang sering dihampiri saat bertandang ke Bedugul. Anda bisa mampir di Kebun Raya Bedugul untuk menyaksikan beberapa jenis burung beterbangan liar dan menjumpai ribuan spesies tanaman. Ada juga Pasar Candi Kuning dimana pengunjung dapat membeli baragam jenis sayur dan buah-buahan. Dan tidak ketinggalan pesona wisata Pura Ulun Danu yang dibangun di tepi Danau Beratan.

Tak banyak tempat yang kami singgahi. Hanyalah Pura Ulun Danu Beratan yang berhasil saya datangi. Setiba di sana, mata kita akan dimanjakan bangunan khas arsitektur Bali. Biasanya, terdapat tiga unsur yang harus terpenuhi. Pertama, bangunannya harus berharmonisasi dengan alam. Kedua, memiliki struktur ruang-ruang yang rapi. Dan unsur ketiga, terdapat berbagai ukiran dan juga patung. Ketiga unsur tersebut benar-benar dapat pengunjung saksikan di sana.

Menariknya, pura yang dibangun di tepian danau tersebut, bila dilihat dari sudut yang tepat akan tampak seolah-olah air menggenangi sekeliling pura. Terutama saat volume air cukup tinggi, pemandangan serupa akan jelas terlihat. Sudutnya yang unik itulah yang diabadikan kebanyakan fotografer dan kemudian menghiasi iklan promosi wisata Bali. Rekan-rekanku berbahagia bisa mendapat kesempatan berfoto di sini.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Sabtu (2 Agustus 2014), potret salah satu Pura yang daya tariknya mampu mendatangkan banyak wisatawan mancanegara ke Pulau Bali. Dikenal dengan sebutan Pura Ulun Danu Beratan dan terletak di kawasan Bedugul.
Sebelum meninggalkan Bedugul dan bergegas ke tempat lain di Bali, kami mampir makan siang di salah satu restoran buffet yang ada di sini. Harga yang ditawarkan senilai 80.000 rupiah per orang dan anda sudah bisa mencicipi makanan sepuasnya. Dengan negosiasi yang cukup alot, rombongan kami berhasil mendapatkan harga yang jauh lebih murah.

Ada perbedaan antara orang Indonesia dengan orang asal Eropa-Amerika. Orang Indonesia lebih mementingkan rasa dan tidak begitu perduli dengan tampilan makanan. Sementara, orang asal Eropa-Amerika, selain perut, matanya juga harus dibuat kenyang sehingga tampilan makanan menjadi sangat penting. Di restoran buffet yang kami singgahi mampu menggabungkan keduanya. Antara citarasanya yang enak dengan tampilan yang unik bagi turis mancanegara. Kenikmatannya, sampai-sampai membuat kedua turis asing di sebelah mejaku, makannya dua kali lipat lebih besar dan lebih banyak dari porsi yang kumakan. Saya takkan bicara banyak mengenai rasanya. Dan tidak akan mengungkap berapa harga yang kami peroleh. Karena sebaiknya anda datang kemari untuk menawar dan mencicipi sendiri makanannya.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Makanan yang dihidangkan di salah satu restoran buffet yang terletak tak jauh dari lokasi Pura Ulun Danu Beratan, Bedugul, Sabtu (2 Agustus 2014).
Usai meninggalkan Bedugul, jalan-jalan dilanjutkan ke tempat menarik lainnya di Bali hingga keesokan harinya, Minggu (3 Agustus 2014). Dan minggu tersebut, menjadi malam terakhir kami berada di Bali. Pesawat dari Bali pun membawa kami menuju Kota Makassar untuk kembali ke kediaman masing-masing. Di Bandara Hasanuddin, senyum yang berbeda-beda terpancar dari wajah rekan-rekan seperjalananku. Ada yang lelah, ada yang tak kenal lelah, ada yang kehilangan barang dan sebagainya. Tapi satu yang jelas, mereka memiliki pengalaman baru dari Bali untuk mereka ceritakan bersama kerabat dan sahabatnya.

Saturday, March 22, 2014

Jelajahi Keindahan Pulau Seribu Pura

Sebelum saya berbagi cerita, terlebih dahulu saya ingin menyampaikan terima kasihku untuk keluarga dan teman yang telah banyak mendukung serta membantu perjalananku selama di Bali. Terima kasih untuk Bunda Yelli (Ai Li Fa), Abang Rivai, Mbak Nia, Henny Purnamasari, Venny Purnamasari, Yuni Purnamasari dan Juniardi atas perjalanan yang mengasikkan ini. Tidak lupa terima kasihku juga untuk Beli Wayan yang telah mengantar kami berputar-putar menjelajahi Bali dengan mobilnya yang bersih.
Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Sabtu (22 Maret 2014), berpose depan gerbang masuk Tanah Lot.
(Dari kiri ke kanan: Ai Li Fa, Henny Purnamasari, Yuni Purnamasari, Venny Purnamasari, Mbak Nia, dan Abang Rivai.)
 Story by. Ahmad Yani Hasti

Ada magnet tersendiri antara hati ini dan Pulau Bali yang membuatku ingin terus kembali mengunjungi Negeri Seribu Pura tersebut. Lagi dan lagi, tak pernah terlintas kata bosan. Di sisi lain, Bali memang memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada para wisatawan lokal dan mancanegara.

Berbekal tiket gratis yang disodorkan kawanku, segera saya menempuh perjalanan udara selama satu jam lebih dari Makassar menuju Denpasar. Rasa senang menyelimuti hati saat menginjakkan kaki lagi di Pulau Bali. Rabu (19 Maret 2014), jelang tengah malam, sekitar pukul 23.15 waktu setempat, saya tengah menghirup udara malam Kota Denpasar. Tak sabar bertemu pagi ingin memulai perjalanan jilid keduaku di Bali sembari melihat hal-hal yang mungkin ditawarkan pulau ini kepadaku.

Pagi yang dinantikan tiba, tapi cuaca benar-benar tidak mendukung untuk melakukan perjalanan hingga Kamis siang itu (20 Maret 2014). Hujan terus bercucuran dan hanya itu yang dapat kami pandangi dari jendela mobil. Saya bersama keluarga besar Venny Purnamasari tampak lemas dan bingung dengan kondisi tersebut. Ditengah kebingungan kami, Beli Wayan pun menawarkan tumpangan ke salah satu rumah makan yang menyajikan kuliner khas Bali. Sajian khas warung itu dinamakan Ayam Betutu. Terdapat dua pilihan yakni berkuah dan digoreng. Warnanya kekuningan diberi kunyit. Selain itu, rasanya unik juga enak dengan sensasi pedas dari campuran cabai dan merica yang menyatu dalam bumbunya. Mantap pokoknya!

Photo by. Ahmad Yani Hasti ---
Kamis (20 Maret 2014), menikmati Ayam Betutu di salah satu warung makan di Bali.
Usai makan, cuaca pun menjadi sedikit lebih bersahabat. Makanannya ludes kami cicipi, hanya tersisa rintik-rintik hujan menemani. Hal itu tidak lagi menjadi penghalang kami untuk jelajahi Pulau ini. Pura maupun bangunan-bangunan serupa itu, mulai terlihat jelas melalui kaca jendela mobil yang ditumpangi. Karakteristik semacam ini yang membedakan Bali dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia. Jika di tempat lain kita melihat banyak Masjid atau Gereja mengisi sudut-sudut kota, di Bali kita akan melihat banyak Pura. Inilah sedikitnya alasan mengapa Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu disebut pula dengan sebutan Pulau Seribu Pura.

Di setiap Pura umumnya terdapat karya seni antara lain pahatan batu, pahatan kayu, maupun lukisan yang menyerupai Dewa-Dewa. Di rumah-rumah, toko-toko di pinggir jalan, hotel maupun tempat wisata, benda-benda yang berbalut dengan bentuk yang menyerupai Dewa ini begitu mudah ditemui. Ini dikarenakan tuntutan kepercayaan masyarakat Hindu-Bali adalah memohon perlindungan dan keselamatan kepada Para Dewa. Tak heran, Bali mendapat julukan lain dikenal sebagai Pulau Dewata. Dewata yang juga berarti Dewa dalam bentuk jamak yaitu Para Dewa.

Photo by. Venny Purnamasari ---
Berfoto bersama di salah satu pintu gerbang GWK, Kamis (20 Maret 2014).
Siang itu, saya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memandangi patung Dewa Wisnu berukuran raksasa dengan tunggangannya bernama Garuda. Patung ini terletak di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana yang biasa disingkat GWK. Meski saat itu hujan masih rintik-rintik, tetap saja sesi foto-fotonya terus berlanjut. Di samping Patung Dewa Wisnu terdapat sumber mata air keramat yang disebut Parahyangan Somaka Giri. Air sucinya dipercaya dapat menyembuhkan beragam penyakit dan mengabulkan berbagai permohonan.

Photo by. Venny Purnamasari ---
Tampak di belakang saya yaitu Patung Dewa Wisnu yang berukuran raksasa.
Di GWK juga terdapat tontonan menarik berupa tarian tradisional dengan aksi berbeda-beda setiap hari. Jika beruntung, pengunjung dapat menyaksikan Tari Kecak yang terkenal mendunia. Hanya saja pada kesempatan itu, saya tidak seberuntung itu. Waktu saya tersita dengan tarian Bali lainnya yang juga sangat menghibur, diantaranya Tari Pendet, Tari Baris, maupun Tari Barong. Para penari terlihat sangat lihai memainkan matanya.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --
Kamis (20 Maret 2014), salah satu pagelaran tarian Bali yang dapat disaksikan di GWK.
Perjalanan berlanjut ke kawasan Nusa Dua dimana banyak hotel-hotel mewah berjejeran. Di sana kami melewati pantai serta taman yang ditumbuhi rumput hijau dan pepohonan yang segarkan pandangan. Tak ketinggalan, kami mampir menyaksikan ombak menghantam dengan derasnya ke karang besar yang berdiri kokoh di sana. Orang-orang menyebut tempat itu Water Blow.

Tujuan berikutnya adalah Pantai Pandawa. Nama pantai ini diambil dari tokoh-tokoh pewayangan yaitu Panca Pandawa atau Pandawa Lima. Untuk ke sana, kita akan melewati tebing-tebing kapur yang di dalamnya dibangun patung-patung serupa tokoh-tokoh pewayangan tersebut. Pantai ini belum terlalu terjamah dan masih terus dilakukan pengembangan oleh pemerintah setempat.

"Feel the Water" - Photo by. Ahmad Yani Hasti,
Model: Yuni Purnamasari, Location: Pandawa Beach.
Menjelang malamnya, kami bergegas menuju kawasan Jimbaran. Disana berbanjar restoran-restoran yang menyajikan hidangan laut. Meski ada banyak restoran, tapi pilihan kami tertuju ke suatu restoran yang bernama Ganesha. Sesampainya di sana, kami harus merogoh kocek sedikit dalam. Karena biaya makan dan minum relatif perorangnya berkisar Seratus ribu hingga Dua ratus ribu rupiah. Tapi itu setimpal dengan kelezatan menu masakan lautnya. Kesegarannya begitu terasa di mulut.

Selain itu, pelayanan dan suasananya juga sangat mendukung. Sembari menikmati hidangan, dari arah pantai, keindahan matahari tenggelam dapat disaksikan di sana. Kelembutan pasir putihnya terasa di setiap sela-sela kaki. Bersamaan itu, udara sepoi-sepoi pantai pun laiknya ikut membelai kulit kami dengan lembut. Perut sudah terisi, selanjutnya tinggal mengisi tenaga untuk perjalanan esok harinya. Maka kami pun kembali ke rumah milik sahabat dan keluarga kami, yaitu Abang Rivai dan Mbak Nia.
Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Jumat (21 Maret 2014), Yuni Purnamasari didampingi Juniardi tengah menikmati panorama alam yang indah di sekitar Tegallalang, Ubud.
Jumat pagi (21 Maret 2014), mobil mulai bergerak dari kediaman Abang Rivai menuju arah Ubud. Di sana kami berhenti di suatu pemandangan hijau yang menyita perhatian kami. Terasering yang demikian bersusun rapi di kawasan Tegallalang, Ubud. Setelah foto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke Kintamani. Kawasan ini terkenal akan kesejukannya disertai pemandangan yang indah. Dari puncak Kintamani, kami bisa melihat Gunung Agung berdampingan dengan Gunung Batur dan Danau Batur. Indahnya!

Ada pengalaman unik saat di Kintamani. Kami ditawarkan beberapa barang dengan harga yang terbilang tinggi. Kebetulan kami tidak tertarik dengan barang-barang yang ditawarkan karena sebelumnya kami sudah berbelanja di Toko Krisna yang terkenal di Bali. Kami tidak bermaksud acuh, tetapi kadang-kadang hal itu perlu bila banyak penjual yang mengejar-ngejar. Terlebih lagi suasana tidak nyaman dan suara ribut yang dihadirkannya. Dan nyatanya justru sikap acuh itu yang memberi kami suatu ilmu baru berbelanja di Bali. Lama-kelamaan, para penjual mulai mengungkapkan harga yang sebenarnya dari barang tersebut. Harga baju kaos tipis bergambar tulisan bali yang semula ditawarkan sebesar Rp.100ribu telah turun 10 kali lipat menjadi Rp.10ribu saat kami sudah di pintu mobil bergegas pulang. Harga itu betul-betul murah karena sudah setengah harga dari barang sejenis di Toko Krisna. Sedikit seperti judi, kalau beruntung dapat murah, sialnya anda mungkin akan berkata: kena deh! Jadi kalau mau dapat barang murah, pura-pura saja tidak mau beli! Heh.
Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Jumat (21 Maret 2014), Venny berpose di atas kawasan Kintamani dengan pemandangan Danau Batur di hadapannya sembari menunjukkan tato temporary yang baru dipakainya. Di Kintamani, banyak yang menawarkan jasa pemasangan jenis tato temporary tersebut kepada turis.
Pengalaman serupa dapat juga dirasakan saat berbelanja di pasar-pasar tradisional. Pembeli harus pandai-pandai menawar. Pesan saya, menawarlah dengan sadis! Kalau tidak mau merasa ditipu mengenai harga, berbelanjalah di toko-toko souvenir yang menawarkan harga ideal untuk anda seperti Krisna atau Erlangga. Sementara untuk pemburu barang-barang unik, anda dapat berbelanja oleh-oleh di Joger yang hanya ada di Bali.

Dari Kintamani kami berangkat ke Pura Tirta Empul yang terletak di Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. Bagi sebagian orang, pura tersebut lebih dikenal dengan nama Tampaksiring. Pura ini sarat budaya dan merupakan salah satu situs sejarah di Bali. Belum lagi seisi Pura terdapat taman dengan kolam-kolam di sekitarnya yang menambah daya tarik pura. Selain ada kolam ikan, di tempat ini juga terdapat kolam dimana masyarakat Hindu Bali melaksanakan tradisi yang disebut melukat, yaitu ritual mandi air suci. Ritual mana yang bertujuan untuk membersihkan jasmani dan rohani. Jika ingin, ritual tersebut boleh juga dilakukan pengunjung. Dan sebaiknya pengunjung menyimak setiap pesan penjaga Pura, mengingat tempat-tempat yang dianggap suci seperti pura ini terdapat hal-hal yang dibolehkan dan dilarang.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Jumat (21 Maret 2014), sejumlah pemuda sedang melakukan prosesi "Melukat" di kolam air suci yang berada di Pura Tirta Empul, Tampaksiring, Bali.
Lalu kami kembali ke Ubud untuk makan siang. Tepatnya di restoran bernuansa alam bernama Bebek Tepi Sawah. Dari depan memang restoran ini terlihat kecil. Ketika sudah berada di dalam, pengunjung akan melihat luasnya hamparan sawah di sekitar restoran yang elegan tersebut. Pemandangan hijau yang dihadirkan dari sawah serta gunung memberi pandangan yang sejuk. Seisi restoran yang serba terbuka itu dipenuhi dengan interior khas Bali dan pelayan-pelayannya menggunakan pakaian tradisional Bali. Hidangan bebeknya dapat disajikan dengan digoreng biasa, menggunakan bumbu crispy, ataupun dipanggang. Yang paling penting, hidangan bebeknya tidak berbau, dan disajikan dengan tiga jenis sambal yang berbeda. Bahkan bila tidak suka makan bebek, pengunjung dapat memilih menu lainnya. Dan berbicara mengenai rasa, saya yakin restoran ini akan memanjakan lidah anda. Usai makan, sebelum pulang beristirahat di rumah Abang Rivai, kami mampir ke Pantai Kuta menghabiskan senja dan melihat matahari terbenam.

Keesokannya, nampak sinar mentari mulai masuk melalui celah-celah dinding kamar menandakan pagi kunjungan terakhir kami di Bali, Sabtu (22 Maret 2014). Sebelum ke Bandara pada sore harinya, kami menyempatkan diri berkunjung ke Tanah Lot. Di sana terdapat dua pura. Salah satunya terletak di atas batu karang besar. Bila air pasang, pura di atas bongkahan batu ini akan terlihat seolah-olah berada di tengah laut. Satunya lagi, pura yang dibangun di atas tebing yang menjorok ke laut. Tak sedikit fotografer mengabadikan tempat ini sebagai objek atau latar fotonya, terutama saat petang atau matahari terbenam.

Photo by. Ahmad Yani Hasti,
Model: Venny Purnamasari, Location: Tanah Lot.
Keindahan Bali ini rasanya sangat sulit untuk ditinggalkan. Namun pada akhirnya, waktu juga yang menentukan kami harus beranjak dari pulau seribu pura tersebut. Sore harinya, kami bergegas ke bandara untuk menaiki pesawat yang akan mengantar kami ke Makassar. Kami harus kembali kepada keluarga, rumah, dan pekerjaan kami. Perjalanan singkat ini benar-benar terbayarkan dengan segala keindahan dan pengalaman yang didapatkan di Bali. Dengan keberangkatanku sore itu, bibirku tak ingin mengucapkan salam perpisahan. Jadi kalimatku untuk Bali: Sampai jumpa lagi!

*Kebijakan mengenai harga dapat berubah setiap saat.

Saturday, October 5, 2013

Mengisi Liburan Akhir Pekan di Samalona

Story by. Ahmad Yani Hasti

“Uang bukan segalanya, tetapi segalanya adalah uang.” Ada yang bilang begitu. Jadi, apa kita bisa menghabiskan uang untuk membeli kesenangan? Tentu saja tidak. Namun, anda bisa menghabiskan sejumlah uang untuk melakukan suatu perjalanan wisata, dan itu adalah sesuatu yang sama.

"Just Call me: Veny" - Photo by. Ahmad Yani Hasti
Di kantor, berminggu-minggu dengan padatnya aktivitas cukup membikin stres. Dan saya berpikir sudah waktunya untuk melakukan penyegaran serta mencari kesenangan. Sehingga tanpa pikir panjang, saya merencanakan perjalanan ke suatu tempat untuk mengisi liburan akhir pekan.

Tak perlu jauh-jauh karena saya pun tak punya banyak waktu berlibur. Meski waktu libur yang singkat, tentu saya tidak khawatir. Indonesia memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Terutama yang berhubungan dengan panorama alam. Bahkan di Sulawesi Selatan, ada beragam tempat wisata alam yang tak kalah menarik. Jumat malam (4 Oktober 2013), saya berangkat dari rumah saya di Parepare menuju kota Makassar menggunakan mobil dengan perjalanan selama lebih kurang tiga jam. Menginap di kediaman teman, dan berangkat ke Pulau Samalona keesokan harinya, yakni pada Sabtu pagi (5 Oktober 2013). Samalona merupakan pulau tempat wisata yang asik dinikmati bersama keluarga ataupun teman-teman.

"Jump" - Photo by. Ahmad Yani Hasti,
Model: Venny Purnamasari, Location: Samalona Island.
Sabtu itu, saya mengajak rekan kerja dari kantor saya yang baru. Dia salah seorang gadis cantik di kantor, dan rekan kerjaku memanggilnya Veny. Ini adalah perjalanan pertamanya ke Pulau Samalona, dan dia begitu antusias untuk melakukan pemotretan di sana.

Di pinggir laut, depan Fort Rotterdam Kota Makassar, kami menggunakan jasa perahu. Satu perahu dapat memuat sampai 15 orang. Tarif yang ditawarkan mulai 400 ribu hingga 700 ribu rupiah. Murah tidaknya, tergantung negosiasi. Pagi itu, kami pun berangkat dengan perahu untuk trip wisata dan melakukan pemotretan di sana. Di atas perahu, kami banyak berbincang, sedikit cerita tentang Tuhan dan sedikit tentang keindahan yang diciptakan-Nya.

"Smile" - Photo by. Ahmad Yani Hasti,
Model: Venny Purnamasari.
Hanya berselang dua puluh menit mengobrol, kami tiba di Samalona. Inilah pulau yang menawan hati saya pada pekan ini. Salah satu tempat wisata andalan Kota Makassar. Tetapi entah kenapa, saat tiba di sana untuk kesekian kalinya, toh saya masih berpikir tempat tersebut belum mendapat perhatian serius pemerintah dan masyarakat. Masih saja ditemui sampah-sampah plastik dan bungkusan berserakan. Pecinta lingkungan pasti sedih melihatnya. Selain itu, balai-balainya sudah banyak yang rusak. Pusing amatlah, yang penting masih bisa terpakai. Mata saya kemudian hanya tertuju pada keindahan tempat itu. Pantai pasir putih dengan lautan yang memancarkan sinar dari langit yang berwarna biru. Warna-warni yang sungguh menyejukkan.

Siapa yang menyangka keindahan pulau ini juga menarik perhatian salah seorang Desainer Terkenal di Indonesia untuk berkunjung pada Sabtu itu. Pria bertubuh besar bernama Ivan Gunawan tersebut tampak sedang berjalan-jalan mengelilingi pulau. Banyak orang-orang mendekatinya sekadar berfoto dan menyapanya. Kawanku Veny, tak mau ketinggalan ikut berfoto dengan Ivan. Dan aku sendiri sudah cukup dengan melempar senyum padanya. Tidak mau mengganggu waktunya dengan pertanyaan ini dan itu. Meski ingin mengobrol dengannya tetapi tidak kulakukan. Karena saya pikir dia sama saja dengan manusia lainnya. Yang terkadang membutuhkan ketenangan di saat sedang bersantai.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Sabtu (5 Oktober 2013), Kawanku Veny berfoto bersama Ivan Gunawan yang merupakan pembawa acara, aktor sekaligus perancang busana terkenal di Indonesia. 
Turis-turis asing juga banyak yang terjebak dalam keindahan Pulau Samalona. Sebagian berenang dan sebagian lagi sedang menikmati keindahan bawah lautnya dengan kegiatan snorkeling. Sebut saja pria asal Republik Ceko, yang diajak oleh Veny untuk berfoto. Dia ke Samalona bersama beberapa kawannya, dan dia mengaku bernama Tommy.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Sabtu (5 Oktober 2013), Kawanku Veny berfoto bersama turis asal Republik Ceko yang disapa Tommy. 
Saat kutanya pendapat Tommy tentang Indonesia, dia bilang “Very Nice”. Lebih khusus lagi, kutanyakan pendapatnya tentang Samalona, dia bilang “Very Nice”. Lantas kutanyakan lagi pendapatnya tentang Orang-orang Indonesia, dia bilang “Very Nice”. Mendengar jawabannya, aku tersenyum saja, sambil berkata dalam hati, “Orang asing ini sepertinya cuman punya dua kata tersebut untuk menggambarkan seisi Indonesia.” Dua kata yang singkat tapi saya tahu, itu adalah pendapat Tommy yang jujur. Meski bukan peramal, saya bisa melihat itu dari mata dan senyumannya. Dan lagi, kedatangannya pagi itu, adalah kunjungan kedua kalinya di Samalona. Bahkan badannya mulai memerah karena seharian melakukan snorkeling di sana, di bawah terik mentari. Yah, memang Indonesia dipenuhi tempat-tempat yang indah. Kuharap lebih banyak lagi orang yang menyadarinya. Seperti Tommy, yang rela melintasi beberapa negara, untuk kedua kalinya datang, menikmati pemandangan di Samalona.

Photo by. Ahmad Yani Hasti, Model: Venny Purnamasari, ---
Sabtu (5 Oktober 2013), sisi foto Samalona yang menunjukkan gedung-gedung Kota Makassar dari kejauhan.
Saya, Veny, dan Tommy cukup banyak mengobrol pada kesempatan itu. Setelah itu, saya melanjutkan sesi foto-foto bersama Veny, dan juga menikmati segala keindahan yang ada di Samalona. Keindahan Samalona membuat stres yang mengganggu seakan sirna. Dan tidak lagi ada keraguan bagiku untuk menyambut Senin Pagi berikut seabrek pekerjaan yang sudah menunggu.

Followers

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys