Saturday, October 5, 2013

Mengisi Liburan Akhir Pekan di Samalona

Story by. Ahmad Yani Hasti

“Uang bukan segalanya, tetapi segalanya adalah uang.” Ada yang bilang begitu. Jadi, apa kita bisa menghabiskan uang untuk membeli kesenangan? Tentu saja tidak. Namun, anda bisa menghabiskan sejumlah uang untuk melakukan suatu perjalanan wisata, dan itu adalah sesuatu yang sama.

"Just Call me: Veny" - Photo by. Ahmad Yani Hasti
Di kantor, berminggu-minggu dengan padatnya aktivitas cukup membikin stres. Dan saya berpikir sudah waktunya untuk melakukan penyegaran serta mencari kesenangan. Sehingga tanpa pikir panjang, saya merencanakan perjalanan ke suatu tempat untuk mengisi liburan akhir pekan.

Tak perlu jauh-jauh karena saya pun tak punya banyak waktu berlibur. Meski waktu libur yang singkat, tentu saya tidak khawatir. Indonesia memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Terutama yang berhubungan dengan panorama alam. Bahkan di Sulawesi Selatan, ada beragam tempat wisata alam yang tak kalah menarik. Jumat malam (4 Oktober 2013), saya berangkat dari rumah saya di Parepare menuju kota Makassar menggunakan mobil dengan perjalanan selama lebih kurang tiga jam. Menginap di kediaman teman, dan berangkat ke Pulau Samalona keesokan harinya, yakni pada Sabtu pagi (5 Oktober 2013). Samalona merupakan pulau tempat wisata yang asik dinikmati bersama keluarga ataupun teman-teman.

"Jump" - Photo by. Ahmad Yani Hasti,
Model: Venny Purnamasari, Location: Samalona Island.
Sabtu itu, saya mengajak rekan kerja dari kantor saya yang baru. Dia salah seorang gadis cantik di kantor, dan rekan kerjaku memanggilnya Veny. Ini adalah perjalanan pertamanya ke Pulau Samalona, dan dia begitu antusias untuk melakukan pemotretan di sana.

Di pinggir laut, depan Fort Rotterdam Kota Makassar, kami menggunakan jasa perahu. Satu perahu dapat memuat sampai 15 orang. Tarif yang ditawarkan mulai 400 ribu hingga 700 ribu rupiah. Murah tidaknya, tergantung negosiasi. Pagi itu, kami pun berangkat dengan perahu untuk trip wisata dan melakukan pemotretan di sana. Di atas perahu, kami banyak berbincang, sedikit cerita tentang Tuhan dan sedikit tentang keindahan yang diciptakan-Nya.

"Smile" - Photo by. Ahmad Yani Hasti,
Model: Venny Purnamasari.
Hanya berselang dua puluh menit mengobrol, kami tiba di Samalona. Inilah pulau yang menawan hati saya pada pekan ini. Salah satu tempat wisata andalan Kota Makassar. Tetapi entah kenapa, saat tiba di sana untuk kesekian kalinya, toh saya masih berpikir tempat tersebut belum mendapat perhatian serius pemerintah dan masyarakat. Masih saja ditemui sampah-sampah plastik dan bungkusan berserakan. Pecinta lingkungan pasti sedih melihatnya. Selain itu, balai-balainya sudah banyak yang rusak. Pusing amatlah, yang penting masih bisa terpakai. Mata saya kemudian hanya tertuju pada keindahan tempat itu. Pantai pasir putih dengan lautan yang memancarkan sinar dari langit yang berwarna biru. Warna-warni yang sungguh menyejukkan.

Siapa yang menyangka keindahan pulau ini juga menarik perhatian salah seorang Desainer Terkenal di Indonesia untuk berkunjung pada Sabtu itu. Pria bertubuh besar bernama Ivan Gunawan tersebut tampak sedang berjalan-jalan mengelilingi pulau. Banyak orang-orang mendekatinya sekadar berfoto dan menyapanya. Kawanku Veny, tak mau ketinggalan ikut berfoto dengan Ivan. Dan aku sendiri sudah cukup dengan melempar senyum padanya. Tidak mau mengganggu waktunya dengan pertanyaan ini dan itu. Meski ingin mengobrol dengannya tetapi tidak kulakukan. Karena saya pikir dia sama saja dengan manusia lainnya. Yang terkadang membutuhkan ketenangan di saat sedang bersantai.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Sabtu (5 Oktober 2013), Kawanku Veny berfoto bersama Ivan Gunawan yang merupakan pembawa acara, aktor sekaligus perancang busana terkenal di Indonesia. 
Turis-turis asing juga banyak yang terjebak dalam keindahan Pulau Samalona. Sebagian berenang dan sebagian lagi sedang menikmati keindahan bawah lautnya dengan kegiatan snorkeling. Sebut saja pria asal Republik Ceko, yang diajak oleh Veny untuk berfoto. Dia ke Samalona bersama beberapa kawannya, dan dia mengaku bernama Tommy.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Sabtu (5 Oktober 2013), Kawanku Veny berfoto bersama turis asal Republik Ceko yang disapa Tommy. 
Saat kutanya pendapat Tommy tentang Indonesia, dia bilang “Very Nice”. Lebih khusus lagi, kutanyakan pendapatnya tentang Samalona, dia bilang “Very Nice”. Lantas kutanyakan lagi pendapatnya tentang Orang-orang Indonesia, dia bilang “Very Nice”. Mendengar jawabannya, aku tersenyum saja, sambil berkata dalam hati, “Orang asing ini sepertinya cuman punya dua kata tersebut untuk menggambarkan seisi Indonesia.” Dua kata yang singkat tapi saya tahu, itu adalah pendapat Tommy yang jujur. Meski bukan peramal, saya bisa melihat itu dari mata dan senyumannya. Dan lagi, kedatangannya pagi itu, adalah kunjungan kedua kalinya di Samalona. Bahkan badannya mulai memerah karena seharian melakukan snorkeling di sana, di bawah terik mentari. Yah, memang Indonesia dipenuhi tempat-tempat yang indah. Kuharap lebih banyak lagi orang yang menyadarinya. Seperti Tommy, yang rela melintasi beberapa negara, untuk kedua kalinya datang, menikmati pemandangan di Samalona.

Photo by. Ahmad Yani Hasti, Model: Venny Purnamasari, ---
Sabtu (5 Oktober 2013), sisi foto Samalona yang menunjukkan gedung-gedung Kota Makassar dari kejauhan.
Saya, Veny, dan Tommy cukup banyak mengobrol pada kesempatan itu. Setelah itu, saya melanjutkan sesi foto-foto bersama Veny, dan juga menikmati segala keindahan yang ada di Samalona. Keindahan Samalona membuat stres yang mengganggu seakan sirna. Dan tidak lagi ada keraguan bagiku untuk menyambut Senin Pagi berikut seabrek pekerjaan yang sudah menunggu.

Monday, May 20, 2013

Sepenggal Malam dengan Sepiring Masakan Bergizi Khas Pesisir Indonesia

Story by. Ahmad Yani Hasti.

Aroma bumbu menyatu dengan gumpalan asap menyusup ke dalam penciuman. Di sana, ada sesuatu yang menggoda orang-orang untuk mampir. Di sebelahnya terdapat sebuah kipas dan di bawahnya telah bertumpuk arang yang membara. Warna lapisan kulitnya hingga potongan-potongan di dalamnya terlihat begitu segar.

Pengunjung yang mencicipi, lidahnya serasa tak ingin berhenti mengunyah daging ikan yang gurih tersebut. Memakannya selagi hangat sungguh memberikan kenikmatan yang lebih. Belum lagi sensasi pedas yang diciptakan oleh sambal yang masyarakat lokal sini, bugis-makassar, menyebutnya “cobek-cobek”.

Kamis petang (9/5), matahari mulai bergulir dan bersembunyi di balik dinding gedung yang saya singgahi. Penerangan-penerangan mulai dinyalakan. Dalam kesempatan itu, mulutku pun tengah asik menikmati salah satu dari sekian aneka masakan Indonesia tersebut. Di dalam sebuah warung makan yang hidangan utamanya adalah Ikan Bakar. Menu ini banyak dijumpai di warung-warung makan yang ada di Sulawesi Selatan.

Hal ini tak dapat dipungkiri, mengingat Sulawesi Selatan adalah bagian dari Indonesia. Negara tercinta ini merupakan negara kepulauan yang sebagian besar kawasannya merupakan wilayah pesisir. Sebanyak lebih kurang 2/3 Kota maupun Kabupaten yang terdapat di Sulawesi Selatan adalah kawasan pesisir. Yang mana bagi masyarakatnya, ikan laut adalah menu yang wajib ada di meja makan dinikmati sekeluarga.

Beragamnya budaya di Indonesia, membuat masyarakatnya memiliki corak yang juga berbeda-beda dalam mengolah ikan laut. Umumnya ikan dinikmati dengan cara dimasak, digoreng, atau dibakar. Beberapa daerah menikmatinya dengan tambahan cabe dan tomat yang dicincang, ada juga dengan tumisan sambal, bahkan sebagian orang mengolahnya menjadi abon ataupun makanan khas seperti yang ada di Sulawesi Barat yang disebut Pupuk Mandar.

Begitu banyak cara mengolah ikan, itu berarti tidak ada alasan untuk jenuh mengomsumsi lauk yang sarat gizi tersebut. Apalagi ada berbagai pilihan ikan dengan citarasa yang berbeda yang cukup mudah ditemukan oleh warga di wilayah pesisir. Jenis ikan yang populer menjadi menu harian di Sulawesi Selatan antara lain Ikan Bandeng (Milkfish), orang lokal sini menyebutnya Ikan Bolu. Selain itu, masih ada juga yang populer seperti Ikan Kakap, Ikan Cepa yang mirip Ikan Kuwe, Ikan Cakalang (Shipjack Tuna), Ikan Baronang (Rabbit Fish), serta Ikan Katombo yang disebut juga Ikan Kembung (Mackerel). Kalau di warung-warung makan, kebanyakan ikan tersebut disajikan dengan dibakar ataupun dimasak dengan kuah berwarna kuning. Makanan berkuah kekuningan itu dikenal dengan sebutan Pallumara oleh lokal Makassar, dan Nasu Bale oleh lokal Bugis.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Kamis (9 Mei 2013), saya tengah menikmati hidangan ikan bakar di salah satu warung makan di Parepare, Sulawesi Selatan.

Hanya saja terkadang harganya yang sulit dijangkau oleh sekelompok orang sehingga menu ikan diganti dengan lauk-pauk lainnya. Padahal ikan terutama yang habitatnya di laut adalah hewan yang memiliki kandungan gizi cukup lengkap.

Mengetahui kandungan yang ada disetiap potongan ikan laut ibaratnya suatu kesempatan untuk Jelajah Gizi yang luar biasa. Nilai gizi yang ada di dalamnya memang yang paling kompleks dibandingkan hewan-hewan lainnya. Sudah banyak ahli gizi dan artikel yang mengungkap kekayaan gizi pada hewan laut tersebut.

Ikan laut mengandung protein yang bermanfaat untuk regenerasi sel dalam tubuh. Proteinnya mudah dicerna sehingga baik untuk bayi dan anak-anak. Sangat bagus untuk pertumbuhan anak dan sistem kekebalan tubuh pada orang dewasa. Ikan laut juga banyak mengandung Omega-3. Dimana zat tersebut berfungsi meningkatkan kecerdasan otak anak dan mencegah penurunan fungsi otak ataupun kepikunan bagi orang dewasa.

Dalam ikan laut pun terdapat bermacam-macam vitamin yang penting untuk membantu pertumbuhan serta menjaga kesehatan tubuh. Selain itu, ikan laut kaya akan mineral seperti zat besi untuk mencegah tubuh dari kekurangan darah (anemia), yodium yang mencegah penyakit gondok, serta selenium yang berperan menjadi antioksidan untuk melindungi tubuh dari radikal bebas.

Namun daya tahan ikan relatif singkat, maka untuk mendapat banyak manfaat dari ikan laut, dianjurkan memilih ikan yang masih segar dan mengolahnya secara cepat. Tak hanya itu, pengolahannya juga harus diperhatikan. Kandungan mineral seperti yodium pada ikan laut dapat berkurang secara drastis dengan cara dimasak apalagi dengan suhu tinggi. Ini terjadi akibat adanya penguapan mineral seperti yodium. Jadi sebaiknya ikan laut jangan dibuat terlalu matang, dan bila perlu tambahkan garam secukupnya untuk menjaga kadar yodium pada masakan.

Jarum jam pun terus berputar, saking nikmatnya makanan yang saya cicipi di warung itu membuatku lupa waktu. Sementara malam telah memberi isyarat untuk saya pulang ke rumah. Walau masakan itu sesaat membuatku amnesia waktu, tetapi nikmatnya terus menyadarkanku akan berkah yang terdapat dalam sepiring ikan laut yang dibakar tersebut. Sudah sepatutnya warga yang tinggal di wilayah pesisir Indonesia terus merasa bersyukur, karena berkah yang luar biasa sudah datang dimulai dari apa yang senantiasa ditemui di pagi hari, dalam sepiring makanan yang telah disantap. Ikan laut yang kaya akan gizi, kadang-kadang tanpa disadari, sesungguhnya telah membantu kita menjalani aktivitas sehari-hari.

Sunday, September 2, 2012

Wisata Air di Pantai Galesong Utara

Story by. Ahmad Yani Hasti

Matahari tampak di arah timur Kota Makassar, saat saya bersama keluarga melakukan perjalanan menuju salah satu kawasan di Takalar. Untuk ke sana, kami menempuh perjalanan yang menghabiskan waktu sekira 40-50 menit, dari pusat kota Makassar, melewati Jalan Metro Tanjung Bunga dan Barombong. Tempat yang terletak di Kabupaten Takalar itu dinamai Resor Pantai Wisata Galesong Utara.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Minggu (2 September 2012), Sepupu-sepupuku bersama rekan-rekannya bermain Banana Boat di sekitar Pantai Wisata Galesong Utara.
Setiba di sana, mata kami dimanjakan pemandangan sebuah rumah bernuansa Mediterania. Di dalam bangunan itu terdapat lukisan dan patung-patung yang menarik. Sementara di bagian luarnya, banyak bertumbuh pohon-pohon lebat nan teduh yang ditata dengan apik oleh pemilik Resor. Hanya dengan biaya empat puluh ribu rupiah per orang, beberapa fasilitas di dalamnya sudah bisa dinikmati secara gratis. Fasilitas gratis itu antara lain arena outbond, beragam tempat berteduh seperti gazebo, tempat makan dan kursi untuk berjemur, serta kolam renang keluarga dengan kedalaman sekira satu meter.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Mahdi menikmati petualangan Outbond yang digunakan secara cuma-cuma di Resor Galesong, Minggu (2/9/2012).

Di sebelah kolam renang, tampak panorama lautan luas yang menghampar di bibir pantai. Di sana tersedia permainan wisata air yang dikenakan tarif beberapa puluh ribu saja per orangnya. Tidak harus menguras kocek dalam-dalam untuk menikmati permainan berupa Banana Boat dan Jet Ski. Sementara untuk anak-anak, tersedia permainan yaitu kendaraan mini seperti boom-boom car dengan tarif yang juga cukup murah.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Kendaraan mini dengan tarif murah dapat dimainkan anak-anak saat berada di Galesong.

Bahkan ketika pengunjung harus bermalam karena menempuh perjalanan jauh, Resor ini menyediakan dua tipe kamar dengan ongkos yang tidak begitu mahal. Untuk semalam, Kamar standar dengan dua kasur susun (empat tempat tidur) dikenakan tarif Rp. 390 ribu dan kamar keluarga dengan empat kasur susun (delapan tempat tidur) dikenakan biaya Rp. 590 ribu. Tarif berbeda dikenakan untuk Sabtu, Minggu, dan hari-hari libur, yaitu Rp. 490 ribu untuk kamar standar dan Rp. 790 ribu untuk kamar keluarga (kebijakan mengenai harga ini dapat berubah sewaktu-waktu).

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Sepupuku, Akbar tampak sangat menikmati petualangan pertamanya mengendarai Jet Ski di Galesong, Minggu (2 September 2012).
Kedatangan saya minggu itu (2 September 2012), Resor Galesong ini ramai dikunjungi wisatawan lokal. Resor tersebut memang menarik untuk dikunjungi, utamanya bagi mereka yang tinggal tak jauh dari Takalar. Wisata Air di Resor itu, biayanya murah dengan kesan yang cukup mewah. Selain itu, ada kesenangan tersendiri bagi saya saat melihat kedua keponakanku, Mahdi dan Hadi, bermain-main di sekitar pantai sembari melukis senyum di wajah mereka. Keduanya sungguh menikmati fasilitas yang ada di sana.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Kedua kemanakanku, Mahdi (kiri) dan Hadi (kanan) di Pantai Galesong Utara, Minggu (2 September 2012).

Tuesday, June 26, 2012

Menyingkap Ragam Pesona yang Membingkai Indonesia

Terdiri atas gugusan-gugusan pulau, yang kecil dan yang besar, mulai dari titik wilayah paling barat di Sabang hingga paling timur di Merauke. Itulah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sederhananya dapat disebut Indonesia. Tercatat lebih dari tujuh belas ribu pulau, menjadikan Indonesia sebagai Negara Kepulauan Terbesar di dunia.

Luas laut yang mengelilingi Indonesia adalah sekira 2/3 dari wilayah darat yang ada. Kondisi geografis ini menyebabkan banyak penduduk Indonesia harus hidup terpisah-pisah oleh lautan. Tetapi justru hal itulah yang menjadi salah satu faktor mengapa Indonesia menjadi lebih kaya akan budaya. Dan keanekaragaman itu semakin menambah kekayaan negara dalam segala aspek.

Salah satu semboyan yang kemudian populer di Indonesia yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”. Secara harfiah, moto itu berarti “Berbeda-beda, satu itu” atau dapat diartikan “Berbeda-beda, tetapi tetap satu“. Oleh karena itu, tidak ada satupun daerah atau kekayaannya secara parsial yang benar-benar menjadi representasi Indonesia secara keseluruhan. Sebab masing-masing sudah merupakan satu-kesatuan. Hanya saja, memang ada beberapa bagian di Indonesia yang telah lebih dahulu menjadi perhatian dunia dan membuat Indonesia kian dikenal negara-negara asing. Beberapa bagian kecil itu, tentunya patut memberi rasa bangga dan diharapkan terus menyulutkan api semangat nasionalisme kita sebagai warga Indonesia.

Jadi biarpun selama berpuluh-puluh tahun terakhir, Indonesia tengah diterpa badai kemiskinan yang disebabkan derasnya hantaman korupsi, tetap saja ada begitu banyak hal membanggakan di tanah air ini yang membuat kita selalu percaya bahwa Negara Indonesia adalah negara yang kaya raya dan bukanlah negara yang tidak ada apa-apanya. Terkait itu, penulis akan mengajak pembaca untuk sedikit bernostalgia. Tujuan nostalgia ini adalah mengenal kembali apa yang Indonesia miliki, sebab apa yang kita punya ini, sedikit-banyak, mulai bahkan telah menyita perhatian orang-orang dari luar Indonesia.

Laut Indonesia dan Perahu Pinisi yang Melegenda

Foto: Mifda Hilmiyah --- Berfoto dengan lukisan perahu pinisi yang ada di Museum Fort Rotterdam Makassar, pertengahan Agustus 2010.
Masih ingat lirik, “Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra…”? Ya, ini adalah penggalan lirik yang mungkin anda sering dengar dan nyanyikan saat masih kanak-kanak. Lagu yang mulai hadir dan populer di era 1940-an ini, bagi penulis sangat memberi gairah ber-Indonesia. Liriknya diciptakan oleh Ibu Sud yang terkenal sebagai pencipta lagu anak-anak. Banyak sih yang bertanya-tanya, apa benar nenek moyang bangsa Indonesia seorang pelaut? Jawabannya ada beberapa versi jadi sulit memastikannya, tetapi satu yang pasti, Ibu Sud melakukan hal serupa yang banyak dilakukan orang-orang Indonesia dan leluhur-leluhurnya, dimana Ibu Sud telah menjadikan laut sebagai sumber inspirasinya.

Di Indonesia, tentu bukan hanya daratan kepulauannya yang memiliki kekayaan alam melimpah sampai-sampai Indonesia dinobatkan sebagai Mega Biodiversity (keanekaragaman mahluk hidup yang tinggi), tetapi lautan di sekelilingnya pun terbukti sangat kaya. Kenyataannya, banyak nelayan asing yang sering tertangkap basah menjarah hasil laut kita. Sehingga pantaslah selama bertahun-tahun Laut Indonesia menjadi sumber kehidupan banyak penduduknya dan telah jadi lautan inspirasi bagi kita. Dan rasanya tidak berlebihan ada orang-orang yang beranggapan bahwa sebenarnya Indonesia ini Maha Kaya.

Di satu sisi lainnya, Laut Indonesia juga terbukti telah mengispirasi leluhur kita untuk menjelajahi samudra luas. Beberapa penulis luar dan dalam negeri telah melakukan sejumlah reportase, penelitian, dan memberikan kesaksian tentang kehebatan pendahulu kita dalam hal kemaritiman. Pada lembaran sejarah, jauh sebelum terbentuknya negara ini, saat itu kita belum menyebutnya Indonesia, leluhur kita sudah menjelajahi samudra yang luas menggunakan perahu, salah satunya yang disebut Pinisi.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Kerangka Pinisi yang hampir selasai dan tengah berada di lokasi pembuatannya di Tanah Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan, Minggu (24 Juni 2012).

Perahu tradisional Pinisi bentuknya sangat elegan, memiliki cucur yang panjang, dua tiang utama, serta tujuh helai layar yang dapat dimaknai bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia dapat mengarungi tujuh samudra di dunia. Pinisi sendiri, dibuat di kepulauan Sulawesi tepatnya Sulawesi Selatan oleh orang-orang Bugis dan Makassar yang kala itu masih berbentuk kerajaan-kerajaan. Menurut kitab Lontara I Babad La Lagaligo, Pinisi sudah ada sebelum abad ke 15. Konon cerita, pada abad ke 14, Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu. Digunakan perahu itu untuk berlayar ke Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai. Pinisi berhasil mengantar Sawerigading ke negeri Tiongkok dan memperistri Puteri We Cudai. Sungguh manis yah, ternyata orang dulu romantis juga, heh!

Berbeda yang tertulis dalam naskah Lontara, beberapa sejarawan juga ada yang beranggapan bahwa Pinisi baru eksis di tahun 1800-an, yakni di zaman kolonial. Saat itu Sulawesi sudah menjadi pusat jalur perdagangan nusantara dan terhubung oleh orang-orang dari Cina, Arab, Persia, dan Eropa. Maka pinisi dibuat sebagai kapal kargo atau pengangkutan barang.

Kekayaan alam Indonesia terutama rempah-rempah rupanya sangat menarik perhatian sejumlah penjelajah dari Eropa dan mereka bermaksud menguasainya. Lalu Pinisi pun dirancang sebagai kapal perang untuk menghentikan monopoli tersebut. Bahkan ada juga sumber yang menyebut Pinisi turut memberi bantuan terhadap Indonesia dalam meraih kemerdekaannya. Jadi, selama berabad-abad, Pinisi telah melalui banyak transformasi. Sampai pada tahun-tahun kemerdekaan Indonesia, pun Pinisi dipesan oleh orang-orang asing untuk dijadikan kapal pesiar dan dibuat menggunakan mesin yang lebih canggih.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Minggu (24 Juni 2012), beberapa pekerja yang sedang dalam proses pengerjaan perahu pinisi diantaranya pemotongan (atas, dan kanan bawah) serta penyambungan (kiri bawah).

Pada Era Millenium ini, sungguh disayangkan karena Pinisi sudah jarang ditemukan. Dan tidak banyak lagi daerah yang tetap mendirikan perahu jenis ini. Salah satu daerah pembuatan Pinisi yang masih eksis berada di Bulukumba. Meski sudah jarang ditemukan, sesekali Pinisi masih dapat dilihat jika ada pagelaran Festival Perahu Pinisi, selebihnya anda dapat melihatnya dalam bentuk miniatur yang dijual di toko-toko cinderamata. Selain Pinisi, masih ada aneka kapal lain yang dibangun leluhur kita di Sulawesi pada waktu lampau dan era yang hampir bersamaan. Diantaranya Padewakang, Panawa, Palari, dan Bingga, serta ada juga jenis perahu Sandeq yang dibuat oleh orang-orang Mandar yang bertempat di wilayah Sulawesi Barat.

Surga Kadal Raksasa di Pulau Komodo

Seperti namanya, Pulau Komodo memang menjadi rumah tinggal bagi sejumlah komodo yang tergolong sebagai spesies kadal terbesar di dunia ini. Dikatakan kadal raksasa dan terbesar di dunia karena kadal ini memang memiliki perawakan yang jauh lebih besar dari beberapa jenis kadal pada umumnya. Panjangnya rata-rata dua hingga tiga meter dan kebanyakan komodo dewasa beratnya melampaui seratus kilogram. Dan entah bagaimana ceritanya, komodo atau yang disebut juga biawak komodo itu bisa berkumpul dan membentuk komunitas di sana. Heh, tapi menurut penulis, justru itulah misteri keunikannya.

Baru-baru ini, tepatnya penghujung tahun 2011 lalu, Pulau Komodo telah dinobatkan sebagai Tujuh Keajaiban Dunia kategori Pemandangan Alam oleh lembaga yang dinamakan New 7 Wonders. Pemilihan telah dilakukan baik secara online melalui vote langsung di www.N7W.com juga lewat situs jejaring seperti facebook dan twitter, serta dengan mengirim sms menggunakan telekomunikasi seluler.

Sudah selayaknya Pulau Komodo mendapat kehormatan itu, mengingat di pulau tersebut bermukim lebih dari seribu komodo yang termasuk hewan langka. Komodo terbilang langka karena secara alamiah memang hanya dapat ditemukan di beberapa kawasan di Indonesia, yakni di sekitar Kepulauan Nusa Tenggara. Selain di Pulau Komodo, habitat asli komodo bertempat di pulau-pulau lainnya yang masih dalam kawasan Kepulauan Nusa Tenggara diantaranya Pulau Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami.

Dari pulau-pulau tersebut beberapa komodo diambili untuk ditangkarkan ke sejumlah kebun binatang dalam dan luar negeri. Tapi hasilnya mengecewakan karena mereka kesulitan bertahan hidup dan berkembang biak. Selain itu, selama bertahun-tahun, komodo juga telah menjadi bahan penelitian bagi tak sedikit orang asing. Dan masih banyak aktivitas manusia lainnya yang menyebabkan penyusutan populasi komodo di alam bebas. Karena itu, IUCN lalu memasukkan dalam catatan merahnya dan menyatakan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan.

Sebagai bentuk perhatian pemerintah, dibuatlah peraturan pemerintah terkait perlindungan dan pemeliharaan Komodo dengan menjadikan Pulau Komodo sebagai Taman Nasional. Sejak itu, pelancong pun mulai berdatangan ke sana.

Sekadar catatan, bila memiliki pendarahan yang parah utamanya perempuan yang menstruasi sebaiknya tidak ikut dalam kegiatan wisata menyaksikan komodo. Juga disarankan tidak menggunakan parfum yang menyengat dan berjalan sendirian. Reptil ini biasa menyerang individu manusia dan sangat sensitif terhadap darah serta aroma-aroma tertentu. Utamanya bau darah, komodo biasanya akan mengikuti dan mengejar asal darah karena dianggapnya sebagai mangsa, meski dari jarak beberapa kilometer.

Seekor komodo dapat berlari cepat. Dia mampu mengejar mangsa dengan kecepatan melampaui 20 kilometer perjam. Digigit dan terkena liur komodo dapat menyebabkan infeksi yang parah. Bila tidak segera ditangani dengan baik dapat menyebabkan kematian. Liurnya mengandung berbagai jenis bakteri dan sebagian besar mematikan. Seram yah, tetapi keunikan pulau dan kelangkaan hewan ini tetap menjadi daya tarik yang memikat banyak turis terutama turis asing. Betapa tidak, di tempat ini pengunjung benar-benar merasakan sensasi petualangan alam bebas ditemani kawanan komodo. Tak seperti kebun binatang, di sana anda tak perlu melihat deretan kawat atau pagar yang membikin anda merasa berada dalam kurungan.

Di Pulau tersebut pemandu yang biasa disebut ranger akan menemani anda bertualang. Meski menyewa seorang ranger mungkin akan cukup menguras kantong, tetapi yakinlah setiap lembar yang dikeluarkan takkan sebanding dengan pengalaman menarik dan cerita yang diperoleh. Saya memang belum pernah ke sana, namun Pulau Komodo ini sudah masuk dalam daftar tujuan perjalananku.

Pulau Bali yang Penuh Daya Tarik

Perjalanan pertama saya di Bali pada Juli 2009 lalu bersama tiga kawanku. Penulis belum pernah ke sana lagi sejak itu. Meski sudah tiga tahun berlalu, perjalanan itu masih meninggalkan kesan yang dalam. Bali merupakan tempat yang bersih, orang-orangnya ramah, dan memiliki sejumlah pemandangan alam yang hijau, menarik, juga menyejukkan. Selain itu, orang-orang Bali pun masih menjaga tradisi yang dimilikinya dengan sangat apik.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Monumen Rakyat Bali di Bulan Juli 2009.

Hangat mentari, pantai-pantai pasir putih yang terawat, perbukitan yang sejuk, dan kentalnya nuansa budaya di Bali itulah yang mengharumkan namanya ke berbagai penjuru dunia. Terbukti pulau tersebut sering menjadi tempat liburan sederet selebritis kenamaan dunia. Sebut saja Penyanyi Remaja Justin Bieber dan Aktris Peraih Oscar Julia Roberts. Bali adalah nama pulau yang sudah sangat populer di kalangan wisatawan. Setiap hari, tiada henti-hentinya turis mancanegara berdatangan di pulau tersebut.

Pakaian Nasional Bernama Batik

Terkait pakaian atau busana, sejak dahulu orang Indonesia utamanya Perempuan-perempuan Indonesia sudah memiliki kemampuan seni yang cukup baik. Dari dulu, Perempuan Indonesia terbilang sangat kreatif dalam menghasilkan dan mengkreasikan busana-busana yang variatif. Salah satu busananya yang merupakan warisan budaya Indonesia adalah batik. Dan di waktu lampau, Perempuan-perempuan khususnya di Jawa menjadikan kerajinan batik sebagai mata pencaharian mereka. Pakaian dengan motif beragam ini diyakini telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit.

Batik cukup populer di luar negeri. Salah satu serial komedi Amerika yang terkenal di masanya, yaitu Murphy Brown (produksi 1988-1999) pernah menayangkan satu episode yang menyinggung bahwa batik berasal dari Indonesia. Saat itu, Murphy yang diperankan Candice Bergen diceritakan mengunjungi pesta yang diadakan rekannya bernama Jim Dial. Bukannya berlangsung bahagia, pesta justru berjalan kaku, ribut, tamu-tamu yang hadir menjadi tegang, dan berakhir dengan kekacauan. Film ini cukup membuat saya terpingkal-pingkal sekaligus semakin bangga dengan nama batik yang disebutnya.

Batik juga sering digunakan tokoh-tokoh terkenal dunia dalam berbagai kegiatan. Salah satunya Nelson Mandela yang populer lewat politik anti apartheidnya. Nelson yang menjabat presiden Afrika Selatan dari 1993 hingga 1998, kala itu melakukan kunjungan ke Indonesia. Dia diberi pakaian batik dan langsung jatuh hati dengan pakaian bercorak unik itu. Sejak saat itu, batik pun menjadi sangat populer di Afrika.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Tanjung Bira, Minggu (24 Juni 2012), kawanku Esa Ramadana sedang memeragakan batik yang dapat digunakan dalam segala suasana, formil (kiri) dan santai (kanan).

Lembaga Dunia UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia sejak 2 Oktober 2009. Mulai saat itu, setiap tahunnya di tanggal yang sama diperingati Hari Batik Nasional. Baju batik pun mendapat tempat sebagai pakaian nasional. Kemudian batik kian merebak ke masyarakat dan secara rutin digunakan dalam perkantoran juga sekolah-sekolah, baik dalam kegiatan formil maupun aktivitas sehari-hari.

Tahun 1996 saat usiaku hampir memasuki sepuluh tahun, saya berkesempatan menyaksikan langsung proses pembuatan batik di Cirebon. Kala itu, saya menemani Ibuku berbelanja batik langsung di tempat produksinya. Harga satuan batik di tempat itu relatif murah, kala itu hanya berkisar puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Di sana, saya menyaksikan beberapa wanita paruh baya tengah disibukkan dengan kegiatan membatik. Tangannya diayun-ayunkan dan melukis di atas secarik kain putih. Kemudian melewati beberapa proses yang cukup rumit. Tak heran batik lantas menjadi karya seni warisan Perempuan Indonesia yang bernilai tinggi. Di tangan desainer-desainer kenamaan Indonesia, kini batik dibuat menjadi lebih moderen dengan nilai jual yang dapat mencapai jutaan rupiah.

Bukan di Cirebon saja yang terkenal dengan industri batiknya tetapi di beberapa tempat lain seperti Pandeglang, Surakarta, Yogyakarta, Pekalongan, Garut, dan Tasikmalaya. Selain batik, beberapa pakaian tradisional yang terkenal di nusantara adalah busana kebaya, baju bodo dari Sulawesi Selatan, busana khas Dayak dari Kalimantan, kain ulos khas Batak dari Sumatera Utara, busana khas Minangkabau berupa baju kurung dan songket dari Sumatera Barat, serta koteka yang berasal dari Papua. Sangat variatif, bukan?

Aneka Jajanan Indonesia

Salah satu dampak positif lainnya atas kondisi laut yang memisahkan orang-orang Indonesia di berbagai daerah adalah tanah air Indonesia makin kaya dengan resep-resep makanan. Takkan banyak orang asing yang menyangka setiap suku di Indonesia umumnya memiliki karakteristik dan kebiasaan yang berbeda-beda dalam mengolah bahan makanan. Di Indonesia, dari satu jenis bahan utama dapat dihasilkan beraneka ragam makanan.

Makanan utama orang Indonesia adalah nasi. Beragam jenis lauk pun dihidangkan bersama nasi, bahkan nasi juga dikreasikan ke beberapa jenis makanan seperti nasi kuning, nasi goreng, nasi uduk, dan nasi tumpeng. Makanan lainnya, makanan berbahan sagu seperti kapurung dari Sulawesi Selatan, sinonggi dari Sulawesi Tenggara, dan papeda dari Maluku dan Papua. Bahkan mie yang aslinya berasal dari Negeri Tirai Bambu (Cina), oleh orang-orang Indonesia utamanya yang beretnis Tionghoa dihasilkan beragam makanan. Ada jenis Mie Kering dari Makassar, Mie Cakalang dari Manado, Mie Aceh, Mie Pangsit, Mie Goreng, dan masih banyak lagi.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Aneka jajanan Indonesia yang dapat ditemukan di daerah Sulawesi Selatan seperti Coto Makassar (kiri atas), Sop Konro (kanan atas), dan Mie Kering (bawah).

Kondisi alam Indonesia memang menguntungkan bagi penduduknya untuk menghasilkan santapan yang bermacam-macam. Banyak jenis hewan laut, hewan air tawar, dan hewan ternak yang berkembang biak. Selain itu, berbagai jenis tanaman juga bertumbuh yaitu aneka sayuran, buah-buahan juga rempah-rempah. Alhasil, hidangan yang dihadirkan sangat kaya rasa. Manis, Asam, Asin, Pedas, dan Ekstra Pedas yang Menggigit di lidah. Pokoknya ramai rasanya, mengguncangkan lidah dan membikin saya ingin mengucapkan kata, “lezat”. Orang-orang Italia biasanya akan bilang “delizioso”. Akhir kata, selamat bertualang!

Story by. Ahmad Yani Hasti

 Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri


*Referensi
- http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia
- http://id.wikipedia.org/wiki/Pinisi
- http://www.kastenmarine.com/phinisi_history.htm
- http://www.nytimes.com/2010/09/22/fashion/22iht-ACAYPIN.html?_r=1&pagewanted=all
- http://id.wikipedia.org/wiki/Komodo
- http://id.wikipedia.org/wiki/Batik

Followers

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys