Thursday, May 26, 2016

Keindahan Terpendam Indonesia yang Bernama Flores

Story by. Ahmad Yani Hasti

Berwisata kini menjadi tren dunia. Tak sedikit orang mengisi waktu senggangnya dengan perjalanan ke suatu tempat. Mereka hendak bersantai dan menikmati hidup. Bahkan sejumlah kawasan di dunia berlomba-lomba menggali potensi wisata yang mereka miliki untuk menarik perhatian para pelancong. Alasannya sederhana, penghasilan dari wisatawan mampu mendongkrak perekonomian setempat.

Kondisi geografis yang unik menjadikan seluruh pelosok Indonesia memiliki aset potensial untuk kegiatan pariwisata. Tak terkecuali Flores yang kaya budaya serta memiliki panorama alam yang indah. Seindah namanya yang diambil dari Bahasa Portugis yang berarti bunga. Merupakan pulau besar di tenggara Indonesia, yang tepatnya berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan menjadi bagian dari Kepulauan Sunda Kelapa.

Anda mungkin hanya mengetahui namanya saja. Tapi ketika anda mengenalnya lebih dekat, yang anda temukan adalah hal-hal yang luar biasa. Flores telah menanti kedatangan siapa saja untuk menjelajahi keindahan tersembunyi Indonesia lainnya.

Desa Wae Rebo merupakan desa terpencil di atas pegunungan dan menjadi salah satu pemandangan unik yang dapat dinikmati di Flores. Memiliki rumah adat yang disebut Mbrau Niang. Rumah adat ini terbilang langka karena hanya tinggal beberapa dan terdapat di Desa Wae Rebo saja. Tahun 2012 mendapat penghargaan dari UNESCO untuk kategori konservasi warisan budaya. (Source: www.alambudaya.com - Photo by. Barry Kusuma)  
Flores, Alor dan Pantar adalah pulau-pulau yang termasuk dalam rangkaian gunung api di Indonesia. Cukup rawan dan hampir setiap tahun terjadi gempa. Hanya Pulau Sumatera atau Jawa saja yang dapat menandinginya. Tapi itu tidak seperti gempa akan terjadi setiap waktu dan di seluruh lokasi. Jadi kenapa harus menciutkan nyali anda untuk sesuatu yang belum tentu buruk terjadi pada anda. Malah di pulau ini tersimpan misteri kekayaan budaya dan keindahan alam yang akan mengejutkan siapapun yang baru datang.

Gunung-gunung api ini boleh menyebabkan bencana. Tapi setelah proses panjang, yang tersisa bukanlah tanah yang benar-benar tandus dan berdebu. Melainkan tanah yang cukup subur untuk ditumbuhi tanaman dan pepohonan. Menghasilkan gunung dan bukit dengan pemandangan hijau nan eksotis.

MENIKMATI KEAJAIBAN ALAM DI SEKITARNYA

Anda tiba di Flores dan menginjakkan kaki di Labuan Bajo. Dan pastinya tidak akan melewatkan tempat-tempat ini. Tak jauh dari Flores telah mengemuka pulau-pulau yang kini menjadi pusat perhatian dunia. Betapa hal-hal telah berkembang besar di sekitarnya.

Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar yang terletak tak jauh dari Flores telah didedikasikan sebagai Taman Nasional Komodo. Pulau-pulau tersebut termasuk Flores menjadi habitat dimana hewan endemik yang disebut komodo berkembang dan bertahan hidup. Hewan itu seringkali disebut juga biawak komodo atau ora. Hewan ini hanya dapat bertahan hidup lebih lama dan berkembang biak di beberapa kawasan di Nusantara Tenggara Timur.

Ingin berpapasan langsung dengan kadal terbesar di dunia yang disebut komodo? Rasakan pengalaman itu dengan berkunjung ke Taman Nasional Komodo yang terletak tak jauh dari Flores. Taman Nasional Komodo adalah salah satu diantara tujuh keajaiban alam yang terbaru. (Source: www.flickr.com - Photo by. Ananggadipa Raswanto)
Dulu, Komodo ini sering diburu. Menyebabkan spesies kadal terbesar di dunia ini terancam punah. Untuk mencegah kepunahan itu, pemerintah telah menjadikan Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Pulau Padar sebagai Taman Nasional Komodo. Dan hewan-hewan langka tersebut ternyata berhasil menyita perhatian tak sedikit wisatawan asing. Selain komodo, diantara Taman Nasional Komodo ini juga terdapat pantai berwarna merah muda yang menarik disinggahi. Orang lokal menamainya Pantai Merah tetapi turis asing lebih senang menyebutnya Pink Beach.

Tahun 1991, Taman Nasional Komodo akhirnya masuk dalam jajaran Situs Warisan Dunia UNESCO. Kemudian berhasil juga dinobatkan sebagai salah satu pemenang “New 7 Wonders of Nature” atau Tujuh Keajaiban Alam Terbaru. Predikat ini diperoleh berdasarkan hasil voting melalui situs www.new7wonders.com pada 11 November 2011. Sehingga Labuan Bajo pun semakin dikenal dan menjadi tempat di Flores yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Karena menjadi titik persinggahan yang akan mengantar anda menuju pulau-pulau yang menjadi salah satu kejaiban alam tersebut. 

RAYUAN PULAU FLORES YANG SAYANG DILEWATKAN

Banyak wisatawan yang mengakhiri kunjungan di Flores hanya sampai di Labuan Bajo dan pergi ke Taman Nasional Komodo. Dan terlihat masih sedikit wisatawan yang berhasil menjelajahi Flores lebih jauh. Padahal Flores menyimpan banyak keunikan yang menggoda untuk dilihat.

Ada beragam kegiatan wisata yang menanti anda. Misalnya berenang atau mengajak anak-anak bermain dan menikmati pantai dengan pemandangan langit dan laut berwarna biru. Di Flores, ada banyak pantai yang menakjubkan diantaranya Pantai Koka berpasir putih yang berada di Kabupaten Sikka. Dan setidaknya anda bisa menemukan puluhan titik untuk menyelam atau melakukan snorkeling di sekeliling Flores. Di dalamnya terdapat pemandangan laut yang benar-benar indah, dimana anda bisa menemui terumbu karang, lumba-lumba, dan ikan duyung. Jika beruntung kadang-kadang anda akan menemukan ikan paus.

Atau cobalah mendaki gunung dan menaiki bukit-bukit. Anda bisa mengamati beragam spesies hewan yang mungkin selama ini anda lihat di layar kaca saja. Dan jangan lewatkan Taman Nasional Kelimutu di Desa Moni, yaitu pemandangan di atas puncak gunung dengan tiga danau vulkanik berwarnanya yang terkenal. Danau-danau ini pun sering berubah warna. Setidaknya ada beberapa warna yang pernah dilaporkan antara lain warna aqua, hijau, merah, dan cokelat. Bukankah anda sungguh mujur, kalau berhasil melihat ketiga danau dengan warna berbeda-beda hanya berada di atas satu puncak gunung. Fenomena ini diduga disebabkan perubahan reaksi kimia mineral di danau yang dipicu aktivitas gas gunung api. Ini tentu sangat menakjubkan.

Danau Kelimutu merupakan tiga danau berwarna di puncak gunung yang sama, terletak di Desa Moni, Flores.
(Source: www.flickr.com - Photo by. Nicko Vandha)

Tapi tak kalah menakjubkan untuk jalan-jalan ke Desa Cancar. Mengambil selembar foto dengan pemandangan jaring laba-laba berukuran besar di belakang anda. Ini bukan jaring laba-laba sesungguhnya. Tetapi ciptaan langka dari berhektar-hektar sawah yang berbentuk persis jaring laba-laba dan luar biasa besarnya.

Usai menyusuri gunung, bukit, pantai serta laut. Mungkin anda pun tertarik membeli sesuatu untuk dijadikan kenang-kenangan atau cinderamata. Maka jangan lupa berbelanja ke pasar tradisional. Belilah tenun ikat spesial ini. Merupakan tenunan hasil kerajinan tangan wanita-wanita di Flores. Tenunannya halus dan terdiri atas berbagai pilihan warna dengan aneka corak yang khas.

BELAJAR BUDAYA DARI PENINGGALAN YANG TERSISA

Belum puas dengan panorama alam Flores yang menakjubkan. Anda bisa melanjutkan perjalanan wisata dengan suasana berbeda. Jalan-jalan sambil mempelajari kebudayaan yang beragam akan memberikan kesenangan tersendiri. Bercengkrama dengan masyarakat adat diantara bangunan-bangunan tradisional dengan nilai-nilai tradisi yang masih dijunjung tinggi.

Caci atau atau tari perang merupakan tarian tradisional sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung menggunakan cambuk dan perisai di Flores. Tarian ini dimainkan saat musim panen, sebagai ritual tahun baru, upacara pembukaan lahan, upacara adat besar lainnya, ataupun dipentaskan untuk menyambut tamu-tamu penting.
(Source: www.flickr.com - Widiyanto Wibowo)
Masyarakat adatnya bisa dari berbagai suku yang telah lama bertahan di Pulau Flores. Misalnya Suku Ende, Suku Flores, Suku Manggarai, Suku Ngada, dan masih banyak suku lainnya. Mereka adalah masyarakat yang ramah. Ketika anda datang berkunjung, mereka senantiasa menyambut penuh kehangatan dan sewaktu-waktu ke dalam upacara adat atau ritual. Nilai-nilai tradisi dari nenek moyang mereka masih terus terjaga hingga saat ini, seolah tak tergerus zaman.

Anda mungkin berada di era dimana gedung-gedung menjulang tinggi mengelilingi anda. Atau sekadar melihatnya di televisi dan membuat anda terpukau. Tapi yang anda temukan di Flores adalah sangat berbeda dan jauh dari hal itu. Tempat ini seperti tidak banyak berubah namun tetap memikat. Anda berjalan ke pelosok desa dan menemukan diri anda seperti menembus dimensi waktu dan bergerak mundur beratus-ratus tahun yang silam.

Kampung adat di Flores yang dianggap tertua saat ini adalah Kampung Gurusina. Diperkirakan mendiami Flores sejak 5000 tahun silam dan berada di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Di sini terdapat 33 rumah adat yang dihuni tiga suku besar yaitu Suku Kabi, Suku Ago Azi, dan Suku Ago Kae. Alat musik khas mereka adalah Begho. Berupa alat musik petik berdawai enam, dimainkan layaknya pemain gitar. Pengalaman berada di sini tentu akan memberi kesan yang mendalam bagi anda.

Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Flores
http://www.sergapntt.com/gurusina-kampung-adat-tertua-di-pulau-flores/

Tuesday, February 16, 2016

Menjelajahi Keeksotisan Pantai-Pantai di Bulukumba

Story by. Ahmad Yani Hasti


Tak ada alasan lain mengapa saya begitu berhasrat untuk kembali berkunjung ke Bulukumba. Itu karena keindahan alam yang ditawarkan destinasi-destinasi wisata di Bulukumba ini selalu membuatku terpesona.

Berkali-kali sebelumnya, saya ke Bulukumba hanya sempat mengunjungi Pantai Bira. Tempat yang juga populer dengan sebutan Tanjung Bira. Terletak di Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Tapi kali ini, saya mengambil beberapa hari cuti, sehingga saya juga coba menjelajahi tempat-tempat lain yang tidak kalah menariknya.

Buat kamu yang tinggal di luar Sulawesi Selatan, untuk ke Bulukumba kamu bisa naik pesawat menggunakan maskapai penerbangan favoritmu. Bisa dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia atau maskapai lainnya, lalu melakukan pendaratan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Sementara saya langsung berangkat dari Kota Makassar, ditemani kawanku, Ansar Razak, pada Sabtu siang (13 Februari 2016), kami menggunakan sepeda motor.

Bulukumba terletak di sebelah tenggara Kota Makassar, dan dari Makassar kami harus melintasi beberapa kabupaten. Diantaranya melewati Gowa-Takalar-Jeneponto-Bantaeng. Dan di pemberhentian berikut, akhirnya kami tiba di pusat Kabupaten Bulukumba setelah melewati sekitar 165 km atau setara empat jam perjalanan.

Pesona Bira yang Tak Terlupakan

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Sabtu (13 Februari 2016), banyak wisatawan yang datang ke Bulukumba cenderung memilih Pantai Bira sebagai tempat berakhir pekan. Berbagai aktivitas yang biasa dilakukan seperti berenang dan bermain menggunakan speed boat atau banana boat.
Jalan-jalan rasanya kurang elok kalau ke Bulukmba kemudian melewatkan pantai yang satu ini. Pantai Bira, yang disebut juga Tanjung Bira, sampai saat ini tetap menjadi destinasi unggulan di Bulukumba. Kebanyakan turis akan memilih singgah di tempat ini.

Meski setiap kali ke Bulukumba saya selalu menyempatkan diri ke Pantai Bira, pada perjalanan kali ini pun, saya merasa lagi-lagi harus mampir. Dari pusat Kabupaten Bulukumba menuju Pantai Bira masih harus menempuh perjalanan sekitar 40 km. Bersama kawanku, kami berdua menghabiskan satu jam perjalanan memakai sepeda motor. Bagi kawanku, Ansar Razak, ini adalah perjalanan pertamanya di Bulukumba. Dari Makassar ke Pantai Bira, kami memerlukan lima jam, dan sungguh ini adalah perjalanan yang panjang dan melelahkan. Saya bahkan hampir tidak merasakan bagian bawah tubuhku.

Saat kami tiba di Pantai Bira Sabtu itu (13 Februari 2016), hari sudah petang. Kami harus merogoh kocek untuk membayar karcis masuk. Tarifnya bisa berubah sesuai peraturan daerah. Dibedakan antara anak-anak, dewasa, dan turis mancanegara. Juga terdapat jasa parkir untuk motor, mobil, atau bus. Waktu itu kami harus membayar 15.000 rupiah per orang untuk karcis turis lokal dewasa.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Ansar Razak,
Minggu (14 Februari 2016) - Lokasi: Pantai Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan
Memasuki area pantai, matahari terbenam telah menyambut kami. Itu pemandangan yang sangat indah, dan keindahannya itu seolah memberi kami kekuatan untuk berjalan menuju bibir pantai. Secara perlahan rasa lelah juga pegal-pegal inipun mulai menjauh. Dari beberapa kunjungan, Pantai Bira mungkin telah banyak berubah, lebih baik dan lebih buruk dalam berbagai hal, tetapi hal-hal indah yang saya ingat di tempat ini masih sama.

Kilau biru yang dipancarkan lautan. Semilir angin yang menggerakkan setiap helai rambut di tubuhku. Serta pasir yang begitu halus dan putih menyerupai tepung. Semua keindahan tersebut masih terangkum jelas dalam memoriku dan sulit kulupakan. Sementara pengunjung sibuk dengan berbagai aktivitasnya, saya memilih berjalan di bibir pantai dan merasakan pasir putihnya bersentuhan lembut di kakiku. Meski berkali-kali ke Pantai Bira, aku tetap saja terpesona dibuatnya.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Ansar Razak,
Minggu (14 Februari 2016) - Lokasi: Pantai Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan
Matahari tenggelam, awan menjadi gelap. Kami pikir tidak cukup sehari untuk melihat-lihat destinasi lainnya di Bulukumba. Jadi saya dan kawanku memutuskan untuk menginap. Daripada susah-susah mencari penginapan, kami memilih menginap di sekitar Bira saja. Di sekitar Pantai Bira ini terdapat banyak penginapan. Tarif tergantung besar, letak, fasilitas, dan kemampuan anda dalam negosiasi. Standarnya, anda bisa mendapat penginapan dengan harga 300 ribu rupiah per hari setiap satu kamar. Di dalamnya terdapat kamar mandi, satu tempat tidur ukuran besar, dengan kipas angin atau mesin penyejuk udara. Biasanya kita bisa berunding dengan pemiliknya untuk mengijinkan hingga tujuh orang menginap dalam satu kamar. Kalau datangnya rombongan dan biayanya patungan, bukankah lumayan bisa berhemat.

Mencari Ketenangan di Pantai Bara

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Minggu (14 Februari 2016), Pantai Bara yang terletak di Bulukumba, Sulawesi Selatan, masih tampak lengang. Turis lokal dan mancanegara yang terlihat beraktivitas di sekitar pantai bisa dihitung jari.
Minggu (14 Februari 2016), kami sudah tak sabar untuk melihat keindahan destinasi wisata lainnya. Pagi sekali kami sudah bergegas menuju Pantai Bara. Jaraknya ternyata tidak terlalu jauh dari Pantai Bira. Hanya sekitar tiga kilometer. Boleh dikatakan Pantai Bara ini masih seperti saudara Pantai Bira. Sama-sama terletak di Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Bahkan kedua namanya pun hampir sama.

Hanya saja Pantai Bara tidaklah sepopuler Pantai Bira. Kemungkinan karena tempat ini masih terisolasi yang mana akses jalannya belum begitu baik. Untuk ke Pantai Bara, pengunjung akan melewati jalan berbatu dan hutan. Tempat yang terpencil membuat Pantai Bara sepi pengunjung. Tapi justru karena sepi, inilah alasan kuat mengapa tempat ini masih cukup bersih dari sampah-sampah plastik.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Ansar Razak,
Minggu (14 Februari 2016) - Lokasi: Pantai Bara, Bulukumba, Sulawesi Selatan
Sewaktu menginjakkan kaki di Pantai Bara, saya seperti melihat duplikat dari Pantai Bira. Hanya saja lebih banyak pohon kelapa bertumbuh di Pantai Bara. Saya ingin mengatakan keduanya memang sangat indah. Ketika langit masih cerah, pemandangan laut memancarkan lapisan warna berbeda. Dari yang paling dekat terlihat putih, ke tengah berwarna kehijauan, dan paling jauh berwarna biru. Mengagumkan! Meski tempat ini tak ramai pengunjung, hal itu tidak mengurangi nilainya. Tempat ini setidaknya lebih bersih. Bahkan Pantai Bara ini bisa menjadi tempat untuk mencari ketenangan yang anda butuhkan.

Terlihat beberapa orang sedang berkemah di pinggir pantai. Adapula orang-orang yang sedang berenang. Yang lain sedang berteduh dan duduk dibalai-balai sambil mengobrol. Bahkan turis-turis mancanegara pun terlihat sedang asik berjemur di dekat pohon kelapa, tanpa perlu merasa khawatir akan ada yang mengganggunya. Misalnya turis lokal yang usil mengajak foto atau orang-orang yang menawarkan souvenir.

Berusaha tetap eksis meski matahari sangat terik pada Minggu siang itu (14 Februari 2016). Maka saya dan kawanku, Ansar Razak, mengambil foto bersama di Pantai Bara, Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Setiap orang terlihat sangat menikmati aktivitasnya Minggu itu. Dan sejenak menjauh dari segala kepenatan di tempat kerja atau kebisingan di kota. Hanya suara debur ombak dan ditemani semilir angin. Anda juga akan dimanjakan dengan kelembutan saat berpijak atau berbaring di atas pasir putih yang halus bak tepung. Pemandangan alamnya pun akan menyegarkan mata, dengan hijaunya tumbuhan tropis serta biru yang terpancar dari langit juga lautan. Bagiku ketenangan yang saya dapatkan di Pantai Bara ini bukan sekadar ketenangan lagi. Di tempat ini ketenangan itu telah menjadi sesuatu yang disebut mewah.

Apparalang Dimana Tebing dan Pantai Berpadu Indah

Hari berikutnya, Senin (15 Februari 2016), kami sudah berencana kembali ke Makassar. Tapi sangat disayangkan kalau kami tidak mengunjungi tempat yang satu ini. Namanya Tebing Apparalang. Juga terkenal dengan sebutan Pantai Apparalang. Tapi jangan bingung! Disebut demikian karena memang Apparalang merupakan tempat dimana tebing dan pantai berpadu, sehingga menjadi keindahan tersendiri bagi orang-orang yang datang melihatnya. Apparalang terletak di Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Anda dapat mengunjungi Apparalang menggunakan sepeda motor atau mobil. Biasanya ditempuh sekitar 20 menit dari Pantai Bira atau sekitar 60 menit dari pusat Kabupaten Bulukumba. Sebaiknya membawa kendaraan sendiri karena saat kedatangan kami belum ada transportasi umum yang bisa mengantar anda masuk sampai ke Apparalang. Bahkan anda juga tidak akan menemukan penginapan di tempat ini.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Ansar Razak,
Senin (15 Februari 2016) - Lokasi: Tebing Apparalang, Bulukumba, Sulawesi Selatan
Hanya saja ketika mendatangi Apparalang, saya sungguh tak menyangka akan melewati jalan yang cukup rumit. Saat memasuki Desa Ara, anda masih mendapati jalan yang bagus. Lama-lama jalan yang ditemui tak begitu lebar. Lalu dalam jarak beberapa ratus meter anda berada di tempat yang benar-benar terpencil. Cuma terlihat sawah dan pohon-pohon lebat bertumbuh di sisi jalan. Saat semakin dekat, anda mendapati jalan yang curam dan terlebih berbatu. Jika tak ingin tersesat, anda harus jeli melihat tanda-tanda yang terpasang seperti di sisi jalan maupun di pohon. Atau dengan pilihan bantuan yaitu bertanya pada penduduk yang ditemui di jalan.

Setelah melewati jalur yang kelihatan di luar begitu liar. Lalu tiba dan mendekat ke tebing yang begitu curam. Siapa yang akan menduga di baliknya adalah pemandangan pantai yang menawan. Tebing dan pantai berdampingan membuat Apparalang terlihat eksotis. Pemandangan hijau dari tanaman yang tumbuh di sekitar tebing serta kilau laut yang tampak berwarna hijau kebiruan menyejukkan mata. Airnya begitu jernih membuat karang-karang yang berada di dasar laut serta ikan-ikan terlihat sangat jelas.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Ansar Razak,
Senin (15 Februari 2016) - Lokasi: Tebing Apparalang, Bulukumba, Sulawesi Selatan
Bagi yang belum lancar berenang sebaiknya tetap berhati-hati. Kejernihan air di tempat ini memang akan membuat beberapa orang berpikir kalau lautnya dangkal. Tapi sebenarnya laut di lokasi ini cukup dalam. Menurut sebuah informasi, seorang remaja nyaris mati tenggelam di tempat ini. Meski tidak tahu berenang, dia nekat turun ke laut karena berpikir tempatnya dangkal. Melihat pemandangan menawan seperti ini, tentu saja banyak orang, yang tanpa pikir panjang, akan tergoda merasakan sensasinya berenang di Apparalang.

Buang jauh-jauh kerisauan anda tentang takut menjadi hitam atau panasnya matahari. Lalu menyatulah bersama keindahan alam Apparalang ini. Entah dengan memancing atau merasakan kesegaran air laut dengan berenang dan menyelam di dalamnya. Ini adalah hal yang tepat dilakukan di Apparalang, anggap saja anda telah berhasil menemukan satu cara lain menikmati hidup.

Dalam kesempatan ini, saya dan kawanku tak memiliki banyak waktu untuk menjelajahi semua pantai di Bulukumba. Padahal masih ada beberapa pantai yang tidak kalah eksotisnya untuk dikunjungi. Pantai-pantai tersebut antara lain Pantai Kasuso, Pantai Lemo-Lemo, Pantai Mandala Ria, dan Pantai Samboang. Akan tetapi, kami tentu akan mencari kesempatan lain untuk bisa berkunjung ke pantai-pantai tersebut.

Monday, February 15, 2016

Apparalang Cliff and Beach

Photo by. Ahmad Yani Hasti, Model: Ansar Razak --- Monday (February 15th, 2016) at Apparalang Cliff and Beach, Bulukumba, South Sulawesi, Indonesia.
Photo by. Ahmad Yani Hasti, Model: Ansar Razak --- Monday (February 15th, 2016) at Apparalang Cliff and Beach, Bulukumba, South Sulawesi, Indonesia.
Photo by. Ahmad Yani Hasti, Model: Ansar Razak --- Monday (February 15th, 2016) at Apparalang Cliff and Beach, Bulukumba, South Sulawesi, Indonesia.
Photo by. Ahmad Yani Hasti, Model: Ansar Razak --- Monday (February 15th, 2016) at Apparalang Cliff and Beach, Bulukumba, South Sulawesi, Indonesia.
Photo by. Ahmad Yani Hasti, Model: Ansar Razak --- Monday (February 15th, 2016) at Apparalang Cliff and Beach, Bulukumba, South Sulawesi, Indonesia.
Wefie time (Ansar Razak and I) on Monday (February 15th, 2016) at Apparalang Cliff and Beach, Bulukumba, South Sulawesi, Indonesia.

Ewako Visitors

Free counters!

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys