Saturday, March 22, 2014

Jelajahi Keindahan Pulau Seribu Pura

Sebelum saya berbagi cerita, terlebih dahulu saya ingin menyampaikan terima kasihku untuk keluarga dan teman yang telah banyak mendukung serta membantu perjalananku selama di Bali. Terima kasih untuk Bunda Yelli (Ai Li Fa), Abang Rivai, Mbak Nia, Henny Purnamasari, Venny Purnamasari, Yuni Purnamasari dan Juniardi atas perjalanan yang mengasikkan ini. Tidak lupa terima kasihku juga untuk Beli Wayan yang telah mengantar kami berputar-putar menjelajahi Bali dengan mobilnya yang bersih.
Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Sabtu (22 Maret 2014), berpose depan gerbang masuk Tanah Lot.
(Dari kiri ke kanan: Ai Li Fa, Henny Purnamasari, Yuni Purnamasari, Venny Purnamasari, Mbak Nia, dan Abang Rivai.)
 Story by. Ahmad Yani Hasti

Ada magnet tersendiri antara hati ini dan Pulau Bali yang membuatku ingin terus kembali mengunjungi Negeri Seribu Pura tersebut. Lagi dan lagi, tak pernah terlintas kata bosan. Di sisi lain, Bali memang memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada para wisatawan lokal dan mancanegara.

Berbekal tiket gratis yang disodorkan kawanku, segera saya menempuh perjalanan udara selama satu jam lebih dari Makassar menuju Denpasar. Rasa senang menyelimuti hati saat menginjakkan kaki lagi di Pulau Bali. Rabu (19 Maret 2014), jelang tengah malam, sekitar pukul 23.15 waktu setempat, saya tengah menghirup udara malam Kota Denpasar. Tak sabar bertemu pagi ingin memulai perjalanan jilid keduaku di Bali sembari melihat hal-hal yang mungkin ditawarkan pulau ini kepadaku.

Pagi yang dinantikan tiba, tapi cuaca benar-benar tidak mendukung untuk melakukan perjalanan hingga Kamis siang itu (20 Maret 2014). Hujan terus bercucuran dan hanya itu yang dapat kami pandangi dari jendela mobil. Saya bersama keluarga besar Venny Purnamasari tampak lemas dan bingung dengan kondisi tersebut. Ditengah kebingungan kami, Beli Wayan pun menawarkan tumpangan ke salah satu rumah makan yang menyajikan kuliner khas Bali. Sajian khas warung itu dinamakan Ayam Betutu. Terdapat dua pilihan yakni berkuah dan digoreng. Warnanya kekuningan diberi kunyit. Selain itu, rasanya unik juga enak dengan sensasi pedas dari campuran cabai dan merica yang menyatu dalam bumbunya. Mantap pokoknya!

Photo by. Ahmad Yani Hasti ---
Kamis (20 Maret 2014), menikmati Ayam Betutu di salah satu warung makan di Bali.
Usai makan, cuaca pun menjadi sedikit lebih bersahabat. Makanannya ludes kami cicipi, hanya tersisa rintik-rintik hujan menemani. Hal itu tidak lagi menjadi penghalang kami untuk jelajahi Pulau ini. Pura maupun bangunan-bangunan serupa itu, mulai terlihat jelas melalui kaca jendela mobil yang ditumpangi. Karakteristik semacam ini yang membedakan Bali dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia. Jika di tempat lain kita melihat banyak Masjid atau Gereja mengisi sudut-sudut kota, di Bali kita akan melihat banyak Pura. Inilah sedikitnya alasan mengapa Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu disebut pula dengan sebutan Pulau Seribu Pura.

Di setiap Pura umumnya terdapat karya seni antara lain pahatan batu, pahatan kayu, maupun lukisan yang menyerupai Dewa-Dewa. Di rumah-rumah, toko-toko di pinggir jalan, hotel maupun tempat wisata, benda-benda yang berbalut dengan bentuk yang menyerupai Dewa ini begitu mudah ditemui. Ini dikarenakan tuntutan kepercayaan masyarakat Hindu-Bali adalah memohon perlindungan dan keselamatan kepada Para Dewa. Tak heran, Bali mendapat julukan lain dikenal sebagai Pulau Dewata. Dewata yang juga berarti Dewa dalam bentuk jamak yaitu Para Dewa.

Photo by. Venny Purnamasari ---
Berfoto bersama di salah satu pintu gerbang GWK, Kamis (20 Maret 2014).
Siang itu, saya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memandangi patung Dewa Wisnu berukuran raksasa dengan tunggangannya bernama Garuda. Patung ini terletak di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana yang biasa disingkat GWK. Meski saat itu hujan masih rintik-rintik, tetap saja sesi foto-fotonya terus berlanjut. Di samping Patung Dewa Wisnu terdapat sumber mata air keramat yang disebut Parahyangan Somaka Giri. Air sucinya dipercaya dapat menyembuhkan beragam penyakit dan mengabulkan berbagai permohonan.

Photo by. Venny Purnamasari ---
Tampak di belakang saya yaitu Patung Dewa Wisnu yang berukuran raksasa.
Di GWK juga terdapat tontonan menarik berupa tarian tradisional dengan aksi berbeda-beda setiap hari. Jika beruntung, pengunjung dapat menyaksikan Tari Kecak yang terkenal mendunia. Hanya saja pada kesempatan itu, saya tidak seberuntung itu. Waktu saya tersita dengan tarian Bali lainnya yang juga sangat menghibur, diantaranya Tari Pendet, Tari Baris, maupun Tari Barong. Para penari terlihat sangat lihai memainkan matanya.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --
Kamis (20 Maret 2014), salah satu pagelaran tarian Bali yang dapat disaksikan di GWK.
Perjalanan berlanjut ke kawasan Nusa Dua dimana banyak hotel-hotel mewah berjejeran. Di sana kami melewati pantai serta taman yang ditumbuhi rumput hijau dan pepohonan yang segarkan pandangan. Tak ketinggalan, kami mampir menyaksikan ombak menghantam dengan derasnya ke karang besar yang berdiri kokoh di sana. Orang-orang menyebut tempat itu Water Blow.

Tujuan berikutnya adalah Pantai Pandawa. Nama pantai ini diambil dari tokoh-tokoh pewayangan yaitu Panca Pandawa atau Pandawa Lima. Untuk ke sana, kita akan melewati tebing-tebing kapur yang di dalamnya dibangun patung-patung serupa tokoh-tokoh pewayangan tersebut. Pantai ini belum terlalu terjamah dan masih terus dilakukan pengembangan oleh pemerintah setempat.

"Feel the Water" - Photo by. Ahmad Yani Hasti,
Model: Yuni Purnamasari, Location: Pandawa Beach.
Menjelang malamnya, kami bergegas menuju kawasan Jimbaran. Disana berbanjar restoran-restoran yang menyajikan hidangan laut. Meski ada banyak restoran, tapi pilihan kami tertuju ke suatu restoran yang bernama Ganesha. Sesampainya di sana, kami harus merogoh kocek sedikit dalam. Karena biaya makan dan minum relatif perorangnya berkisar Seratus ribu hingga Dua ratus ribu rupiah. Tapi itu setimpal dengan kelezatan menu masakan lautnya. Kesegarannya begitu terasa di mulut.

Selain itu, pelayanan dan suasananya juga sangat mendukung. Sembari menikmati hidangan, dari arah pantai, keindahan matahari tenggelam dapat disaksikan di sana. Kelembutan pasir putihnya terasa di setiap sela-sela kaki. Bersamaan itu, udara sepoi-sepoi pantai pun laiknya ikut membelai kulit kami dengan lembut. Perut sudah terisi, selanjutnya tinggal mengisi tenaga untuk perjalanan esok harinya. Maka kami pun kembali ke rumah milik sahabat dan keluarga kami, yaitu Abang Rivai dan Mbak Nia.
Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Jumat (21 Maret 2014), Yuni Purnamasari didampingi Juniardi tengah menikmati panorama alam yang indah di sekitar Tegallalang, Ubud.
Jumat pagi (21 Maret 2014), mobil mulai bergerak dari kediaman Abang Rivai menuju arah Ubud. Di sana kami berhenti di suatu pemandangan hijau yang menyita perhatian kami. Terasering yang demikian bersusun rapi di kawasan Tegallalang, Ubud. Setelah foto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke Kintamani. Kawasan ini terkenal akan kesejukannya disertai pemandangan yang indah. Dari puncak Kintamani, kami bisa melihat Gunung Agung berdampingan dengan Gunung Batur dan Danau Batur. Indahnya!

Ada pengalaman unik saat di Kintamani. Kami ditawarkan beberapa barang dengan harga yang terbilang tinggi. Kebetulan kami tidak tertarik dengan barang-barang yang ditawarkan karena sebelumnya kami sudah berbelanja di Toko Krisna yang terkenal di Bali. Kami tidak bermaksud acuh, tetapi kadang-kadang hal itu perlu bila banyak penjual yang mengejar-ngejar. Terlebih lagi suasana tidak nyaman dan suara ribut yang dihadirkannya. Dan nyatanya justru sikap acuh itu yang memberi kami suatu ilmu baru berbelanja di Bali. Lama-kelamaan, para penjual mulai mengungkapkan harga yang sebenarnya dari barang tersebut. Harga baju kaos tipis bergambar tulisan bali yang semula ditawarkan sebesar Rp.100ribu telah turun 10 kali lipat menjadi Rp.10ribu saat kami sudah di pintu mobil bergegas pulang. Harga itu betul-betul murah karena sudah setengah harga dari barang sejenis di Toko Krisna. Sedikit seperti judi, kalau beruntung dapat murah, sialnya anda mungkin akan berkata: kena deh! Jadi kalau mau dapat barang murah, pura-pura saja tidak mau beli! Heh.
Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Jumat (21 Maret 2014), Venny berpose di atas kawasan Kintamani dengan pemandangan Danau Batur di hadapannya sembari menunjukkan tato temporary yang baru dipakainya. Di Kintamani, banyak yang menawarkan jasa pemasangan jenis tato temporary tersebut kepada turis.
Pengalaman serupa dapat juga dirasakan saat berbelanja di pasar-pasar tradisional. Pembeli harus pandai-pandai menawar. Pesan saya, menawarlah dengan sadis! Kalau tidak mau merasa ditipu mengenai harga, berbelanjalah di toko-toko souvenir yang menawarkan harga ideal untuk anda seperti Krisna atau Erlangga. Sementara untuk pemburu barang-barang unik, anda dapat berbelanja oleh-oleh di Joger yang hanya ada di Bali.

Dari Kintamani kami berangkat ke Pura Tirta Empul yang terletak di Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. Bagi sebagian orang, pura tersebut lebih dikenal dengan nama Tampaksiring. Pura ini sarat budaya dan merupakan salah satu situs sejarah di Bali. Belum lagi seisi Pura terdapat taman dengan kolam-kolam di sekitarnya yang menambah daya tarik pura. Selain ada kolam ikan, di tempat ini juga terdapat kolam dimana masyarakat Hindu Bali melaksanakan tradisi yang disebut melukat, yaitu ritual mandi air suci. Ritual mana yang bertujuan untuk membersihkan jasmani dan rohani. Jika ingin, ritual tersebut boleh juga dilakukan pengunjung. Dan sebaiknya pengunjung menyimak setiap pesan penjaga Pura, mengingat tempat-tempat yang dianggap suci seperti pura ini terdapat hal-hal yang dibolehkan dan dilarang.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Jumat (21 Maret 2014), sejumlah pemuda sedang melakukan prosesi "Melukat" di kolam air suci yang berada di Pura Tirta Empul, Tampaksiring, Bali.
Lalu kami kembali ke Ubud untuk makan siang. Tepatnya di restoran bernuansa alam bernama Bebek Tepi Sawah. Dari depan memang restoran ini terlihat kecil. Ketika sudah berada di dalam, pengunjung akan melihat luasnya hamparan sawah di sekitar restoran yang elegan tersebut. Pemandangan hijau yang dihadirkan dari sawah serta gunung memberi pandangan yang sejuk. Seisi restoran yang serba terbuka itu dipenuhi dengan interior khas Bali dan pelayan-pelayannya menggunakan pakaian tradisional Bali. Hidangan bebeknya dapat disajikan dengan digoreng biasa, menggunakan bumbu crispy, ataupun dipanggang. Yang paling penting, hidangan bebeknya tidak berbau, dan disajikan dengan tiga jenis sambal yang berbeda. Bahkan bila tidak suka makan bebek, pengunjung dapat memilih menu lainnya. Dan berbicara mengenai rasa, saya yakin restoran ini akan memanjakan lidah anda. Usai makan, sebelum pulang beristirahat di rumah Abang Rivai, kami mampir ke Pantai Kuta menghabiskan senja dan melihat matahari terbenam.

Keesokannya, nampak sinar mentari mulai masuk melalui celah-celah dinding kamar menandakan pagi kunjungan terakhir kami di Bali, Sabtu (22 Maret 2014). Sebelum ke Bandara pada sore harinya, kami menyempatkan diri berkunjung ke Tanah Lot. Di sana terdapat dua pura. Salah satunya terletak di atas batu karang besar. Bila air pasang, pura di atas bongkahan batu ini akan terlihat seolah-olah berada di tengah laut. Satunya lagi, pura yang dibangun di atas tebing yang menjorok ke laut. Tak sedikit fotografer mengabadikan tempat ini sebagai objek atau latar fotonya, terutama saat petang atau matahari terbenam.

Photo by. Ahmad Yani Hasti,
Model: Venny Purnamasari, Location: Tanah Lot.
Keindahan Bali ini rasanya sangat sulit untuk ditinggalkan. Namun pada akhirnya, waktu juga yang menentukan kami harus beranjak dari pulau seribu pura tersebut. Sore harinya, kami bergegas ke bandara untuk menaiki pesawat yang akan mengantar kami ke Makassar. Kami harus kembali kepada keluarga, rumah, dan pekerjaan kami. Perjalanan singkat ini benar-benar terbayarkan dengan segala keindahan dan pengalaman yang didapatkan di Bali. Dengan keberangkatanku sore itu, bibirku tak ingin mengucapkan salam perpisahan. Jadi kalimatku untuk Bali: Sampai jumpa lagi!

*Kebijakan mengenai harga dapat berubah setiap saat.

Saturday, October 5, 2013

Mengisi Liburan Akhir Pekan di Samalona

Story by. Ahmad Yani Hasti

“Uang bukan segalanya, tetapi segalanya adalah uang.” Ada yang bilang begitu. Jadi, apa kita bisa menghabiskan uang untuk membeli kesenangan? Tentu saja tidak. Namun, anda bisa menghabiskan sejumlah uang untuk melakukan suatu perjalanan wisata, dan itu adalah sesuatu yang sama.

"Just Call me: Veny" - Photo by. Ahmad Yani Hasti
Di kantor, berminggu-minggu dengan padatnya aktivitas cukup membikin stres. Dan saya berpikir sudah waktunya untuk melakukan penyegaran serta mencari kesenangan. Sehingga tanpa pikir panjang, saya merencanakan perjalanan ke suatu tempat untuk mengisi liburan akhir pekan.

Tak perlu jauh-jauh karena saya pun tak punya banyak waktu berlibur. Meski waktu libur yang singkat, tentu saya tidak khawatir. Indonesia memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Terutama yang berhubungan dengan panorama alam. Bahkan di Sulawesi Selatan, ada beragam tempat wisata alam yang tak kalah menarik. Jumat malam (4 Oktober 2013), saya berangkat dari rumah saya di Parepare menuju kota Makassar menggunakan mobil dengan perjalanan selama lebih kurang tiga jam. Menginap di kediaman teman, dan berangkat ke Pulau Samalona keesokan harinya, yakni pada Sabtu pagi (5 Oktober 2013). Samalona merupakan pulau tempat wisata yang asik dinikmati bersama keluarga ataupun teman-teman.

"Jump" - Photo by. Ahmad Yani Hasti,
Model: Venny Purnamasari, Location: Samalona Island.
Sabtu itu, saya mengajak rekan kerja dari kantor saya yang baru. Dia salah seorang gadis cantik di kantor, dan rekan kerjaku memanggilnya Veny. Ini adalah perjalanan pertamanya ke Pulau Samalona, dan dia begitu antusias untuk melakukan pemotretan di sana.

Di pinggir laut, depan Fort Rotterdam Kota Makassar, kami menggunakan jasa perahu. Satu perahu dapat memuat sampai 15 orang. Tarif yang ditawarkan mulai 400 ribu hingga 700 ribu rupiah. Murah tidaknya, tergantung negosiasi. Pagi itu, kami pun berangkat dengan perahu untuk trip wisata dan melakukan pemotretan di sana. Di atas perahu, kami banyak berbincang, sedikit cerita tentang Tuhan dan sedikit tentang keindahan yang diciptakan-Nya.

"Smile" - Photo by. Ahmad Yani Hasti,
Model: Venny Purnamasari.
Hanya berselang dua puluh menit mengobrol, kami tiba di Samalona. Inilah pulau yang menawan hati saya pada pekan ini. Salah satu tempat wisata andalan Kota Makassar. Tetapi entah kenapa, saat tiba di sana untuk kesekian kalinya, toh saya masih berpikir tempat tersebut belum mendapat perhatian serius pemerintah dan masyarakat. Masih saja ditemui sampah-sampah plastik dan bungkusan berserakan. Pecinta lingkungan pasti sedih melihatnya. Selain itu, balai-balainya sudah banyak yang rusak. Pusing amatlah, yang penting masih bisa terpakai. Mata saya kemudian hanya tertuju pada keindahan tempat itu. Pantai pasir putih dengan lautan yang memancarkan sinar dari langit yang berwarna biru. Warna-warni yang sungguh menyejukkan.

Siapa yang menyangka keindahan pulau ini juga menarik perhatian salah seorang Desainer Terkenal di Indonesia untuk berkunjung pada Sabtu itu. Pria bertubuh besar bernama Ivan Gunawan tersebut tampak sedang berjalan-jalan mengelilingi pulau. Banyak orang-orang mendekatinya sekadar berfoto dan menyapanya. Kawanku Veny, tak mau ketinggalan ikut berfoto dengan Ivan. Dan aku sendiri sudah cukup dengan melempar senyum padanya. Tidak mau mengganggu waktunya dengan pertanyaan ini dan itu. Meski ingin mengobrol dengannya tetapi tidak kulakukan. Karena saya pikir dia sama saja dengan manusia lainnya. Yang terkadang membutuhkan ketenangan di saat sedang bersantai.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Sabtu (5 Oktober 2013), Kawanku Veny berfoto bersama Ivan Gunawan yang merupakan pembawa acara, aktor sekaligus perancang busana terkenal di Indonesia. 
Turis-turis asing juga banyak yang terjebak dalam keindahan Pulau Samalona. Sebagian berenang dan sebagian lagi sedang menikmati keindahan bawah lautnya dengan kegiatan snorkeling. Sebut saja pria asal Republik Ceko, yang diajak oleh Veny untuk berfoto. Dia ke Samalona bersama beberapa kawannya, dan dia mengaku bernama Tommy.

Photo by. Ahmad Yani Hasti --- Sabtu (5 Oktober 2013), Kawanku Veny berfoto bersama turis asal Republik Ceko yang disapa Tommy. 
Saat kutanya pendapat Tommy tentang Indonesia, dia bilang “Very Nice”. Lebih khusus lagi, kutanyakan pendapatnya tentang Samalona, dia bilang “Very Nice”. Lantas kutanyakan lagi pendapatnya tentang Orang-orang Indonesia, dia bilang “Very Nice”. Mendengar jawabannya, aku tersenyum saja, sambil berkata dalam hati, “Orang asing ini sepertinya cuman punya dua kata tersebut untuk menggambarkan seisi Indonesia.” Dua kata yang singkat tapi saya tahu, itu adalah pendapat Tommy yang jujur. Meski bukan peramal, saya bisa melihat itu dari mata dan senyumannya. Dan lagi, kedatangannya pagi itu, adalah kunjungan kedua kalinya di Samalona. Bahkan badannya mulai memerah karena seharian melakukan snorkeling di sana, di bawah terik mentari. Yah, memang Indonesia dipenuhi tempat-tempat yang indah. Kuharap lebih banyak lagi orang yang menyadarinya. Seperti Tommy, yang rela melintasi beberapa negara, untuk kedua kalinya datang, menikmati pemandangan di Samalona.

Photo by. Ahmad Yani Hasti, Model: Venny Purnamasari, ---
Sabtu (5 Oktober 2013), sisi foto Samalona yang menunjukkan gedung-gedung Kota Makassar dari kejauhan.
Saya, Veny, dan Tommy cukup banyak mengobrol pada kesempatan itu. Setelah itu, saya melanjutkan sesi foto-foto bersama Veny, dan juga menikmati segala keindahan yang ada di Samalona. Keindahan Samalona membuat stres yang mengganggu seakan sirna. Dan tidak lagi ada keraguan bagiku untuk menyambut Senin Pagi berikut seabrek pekerjaan yang sudah menunggu.

Monday, May 20, 2013

Sepenggal Malam dengan Sepiring Masakan Bergizi Khas Pesisir Indonesia

Story by. Ahmad Yani Hasti.

Aroma bumbu menyatu dengan gumpalan asap menyusup ke dalam penciuman. Di sana, ada sesuatu yang menggoda orang-orang untuk mampir. Di sebelahnya terdapat sebuah kipas dan di bawahnya telah bertumpuk arang yang membara. Warna lapisan kulitnya hingga potongan-potongan di dalamnya terlihat begitu segar.

Pengunjung yang mencicipi, lidahnya serasa tak ingin berhenti mengunyah daging ikan yang gurih tersebut. Memakannya selagi hangat sungguh memberikan kenikmatan yang lebih. Belum lagi sensasi pedas yang diciptakan oleh sambal yang masyarakat lokal sini, bugis-makassar, menyebutnya “cobek-cobek”.

Kamis petang (9/5), matahari mulai bergulir dan bersembunyi di balik dinding gedung yang saya singgahi. Penerangan-penerangan mulai dinyalakan. Dalam kesempatan itu, mulutku pun tengah asik menikmati salah satu dari sekian aneka masakan Indonesia tersebut. Di dalam sebuah warung makan yang hidangan utamanya adalah Ikan Bakar. Menu ini banyak dijumpai di warung-warung makan yang ada di Sulawesi Selatan.

Hal ini tak dapat dipungkiri, mengingat Sulawesi Selatan adalah bagian dari Indonesia. Negara tercinta ini merupakan negara kepulauan yang sebagian besar kawasannya merupakan wilayah pesisir. Sebanyak lebih kurang 2/3 Kota maupun Kabupaten yang terdapat di Sulawesi Selatan adalah kawasan pesisir. Yang mana bagi masyarakatnya, ikan laut adalah menu yang wajib ada di meja makan dinikmati sekeluarga.

Beragamnya budaya di Indonesia, membuat masyarakatnya memiliki corak yang juga berbeda-beda dalam mengolah ikan laut. Umumnya ikan dinikmati dengan cara dimasak, digoreng, atau dibakar. Beberapa daerah menikmatinya dengan tambahan cabe dan tomat yang dicincang, ada juga dengan tumisan sambal, bahkan sebagian orang mengolahnya menjadi abon ataupun makanan khas seperti yang ada di Sulawesi Barat yang disebut Pupuk Mandar.

Begitu banyak cara mengolah ikan, itu berarti tidak ada alasan untuk jenuh mengomsumsi lauk yang sarat gizi tersebut. Apalagi ada berbagai pilihan ikan dengan citarasa yang berbeda yang cukup mudah ditemukan oleh warga di wilayah pesisir. Jenis ikan yang populer menjadi menu harian di Sulawesi Selatan antara lain Ikan Bandeng (Milkfish), orang lokal sini menyebutnya Ikan Bolu. Selain itu, masih ada juga yang populer seperti Ikan Kakap, Ikan Cepa yang mirip Ikan Kuwe, Ikan Cakalang (Shipjack Tuna), Ikan Baronang (Rabbit Fish), serta Ikan Katombo yang disebut juga Ikan Kembung (Mackerel). Kalau di warung-warung makan, kebanyakan ikan tersebut disajikan dengan dibakar ataupun dimasak dengan kuah berwarna kuning. Makanan berkuah kekuningan itu dikenal dengan sebutan Pallumara oleh lokal Makassar, dan Nasu Bale oleh lokal Bugis.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Kamis (9 Mei 2013), saya tengah menikmati hidangan ikan bakar di salah satu warung makan di Parepare, Sulawesi Selatan.

Hanya saja terkadang harganya yang sulit dijangkau oleh sekelompok orang sehingga menu ikan diganti dengan lauk-pauk lainnya. Padahal ikan terutama yang habitatnya di laut adalah hewan yang memiliki kandungan gizi cukup lengkap.

Mengetahui kandungan yang ada disetiap potongan ikan laut ibaratnya suatu kesempatan untuk Jelajah Gizi yang luar biasa. Nilai gizi yang ada di dalamnya memang yang paling kompleks dibandingkan hewan-hewan lainnya. Sudah banyak ahli gizi dan artikel yang mengungkap kekayaan gizi pada hewan laut tersebut.

Ikan laut mengandung protein yang bermanfaat untuk regenerasi sel dalam tubuh. Proteinnya mudah dicerna sehingga baik untuk bayi dan anak-anak. Sangat bagus untuk pertumbuhan anak dan sistem kekebalan tubuh pada orang dewasa. Ikan laut juga banyak mengandung Omega-3. Dimana zat tersebut berfungsi meningkatkan kecerdasan otak anak dan mencegah penurunan fungsi otak ataupun kepikunan bagi orang dewasa.

Dalam ikan laut pun terdapat bermacam-macam vitamin yang penting untuk membantu pertumbuhan serta menjaga kesehatan tubuh. Selain itu, ikan laut kaya akan mineral seperti zat besi untuk mencegah tubuh dari kekurangan darah (anemia), yodium yang mencegah penyakit gondok, serta selenium yang berperan menjadi antioksidan untuk melindungi tubuh dari radikal bebas.

Namun daya tahan ikan relatif singkat, maka untuk mendapat banyak manfaat dari ikan laut, dianjurkan memilih ikan yang masih segar dan mengolahnya secara cepat. Tak hanya itu, pengolahannya juga harus diperhatikan. Kandungan mineral seperti yodium pada ikan laut dapat berkurang secara drastis dengan cara dimasak apalagi dengan suhu tinggi. Ini terjadi akibat adanya penguapan mineral seperti yodium. Jadi sebaiknya ikan laut jangan dibuat terlalu matang, dan bila perlu tambahkan garam secukupnya untuk menjaga kadar yodium pada masakan.

Jarum jam pun terus berputar, saking nikmatnya makanan yang saya cicipi di warung itu membuatku lupa waktu. Sementara malam telah memberi isyarat untuk saya pulang ke rumah. Walau masakan itu sesaat membuatku amnesia waktu, tetapi nikmatnya terus menyadarkanku akan berkah yang terdapat dalam sepiring ikan laut yang dibakar tersebut. Sudah sepatutnya warga yang tinggal di wilayah pesisir Indonesia terus merasa bersyukur, karena berkah yang luar biasa sudah datang dimulai dari apa yang senantiasa ditemui di pagi hari, dalam sepiring makanan yang telah disantap. Ikan laut yang kaya akan gizi, kadang-kadang tanpa disadari, sesungguhnya telah membantu kita menjalani aktivitas sehari-hari.

Sunday, September 2, 2012

Wisata Air di Pantai Galesong Utara

Story by. Ahmad Yani Hasti

Matahari tampak di arah timur Kota Makassar, saat saya bersama keluarga melakukan perjalanan menuju salah satu kawasan di Takalar. Untuk ke sana, kami menempuh perjalanan yang menghabiskan waktu sekira 40-50 menit, dari pusat kota Makassar, melewati Jalan Metro Tanjung Bunga dan Barombong. Tempat yang terletak di Kabupaten Takalar itu dinamai Resor Pantai Wisata Galesong Utara.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Minggu (2 September 2012), Sepupu-sepupuku bersama rekan-rekannya bermain Banana Boat di sekitar Pantai Wisata Galesong Utara.
Setiba di sana, mata kami dimanjakan pemandangan sebuah rumah bernuansa Mediterania. Di dalam bangunan itu terdapat lukisan dan patung-patung yang menarik. Sementara di bagian luarnya, banyak bertumbuh pohon-pohon lebat nan teduh yang ditata dengan apik oleh pemilik Resor. Hanya dengan biaya empat puluh ribu rupiah per orang, beberapa fasilitas di dalamnya sudah bisa dinikmati secara gratis. Fasilitas gratis itu antara lain arena outbond, beragam tempat berteduh seperti gazebo, tempat makan dan kursi untuk berjemur, serta kolam renang keluarga dengan kedalaman sekira satu meter.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Mahdi menikmati petualangan Outbond yang digunakan secara cuma-cuma di Resor Galesong, Minggu (2/9/2012).

Di sebelah kolam renang, tampak panorama lautan luas yang menghampar di bibir pantai. Di sana tersedia permainan wisata air yang dikenakan tarif beberapa puluh ribu saja per orangnya. Tidak harus menguras kocek dalam-dalam untuk menikmati permainan berupa Banana Boat dan Jet Ski. Sementara untuk anak-anak, tersedia permainan yaitu kendaraan mini seperti boom-boom car dengan tarif yang juga cukup murah.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Kendaraan mini dengan tarif murah dapat dimainkan anak-anak saat berada di Galesong.

Bahkan ketika pengunjung harus bermalam karena menempuh perjalanan jauh, Resor ini menyediakan dua tipe kamar dengan ongkos yang tidak begitu mahal. Untuk semalam, Kamar standar dengan dua kasur susun (empat tempat tidur) dikenakan tarif Rp. 390 ribu dan kamar keluarga dengan empat kasur susun (delapan tempat tidur) dikenakan biaya Rp. 590 ribu. Tarif berbeda dikenakan untuk Sabtu, Minggu, dan hari-hari libur, yaitu Rp. 490 ribu untuk kamar standar dan Rp. 790 ribu untuk kamar keluarga (kebijakan mengenai harga ini dapat berubah sewaktu-waktu).

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Sepupuku, Akbar tampak sangat menikmati petualangan pertamanya mengendarai Jet Ski di Galesong, Minggu (2 September 2012).
Kedatangan saya minggu itu (2 September 2012), Resor Galesong ini ramai dikunjungi wisatawan lokal. Resor tersebut memang menarik untuk dikunjungi, utamanya bagi mereka yang tinggal tak jauh dari Takalar. Wisata Air di Resor itu, biayanya murah dengan kesan yang cukup mewah. Selain itu, ada kesenangan tersendiri bagi saya saat melihat kedua keponakanku, Mahdi dan Hadi, bermain-main di sekitar pantai sembari melukis senyum di wajah mereka. Keduanya sungguh menikmati fasilitas yang ada di sana.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Kedua kemanakanku, Mahdi (kiri) dan Hadi (kanan) di Pantai Galesong Utara, Minggu (2 September 2012).

Followers

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys