Saturday, January 08, 2011

Coto Makassar Always Been Popular in Makassar


Story by. Ahmad Yani Hasti

Only a small percentage of people who feel this food is strange, especially newcomers. Sometimes they even feel disgusted. Although not all of them, but believe me, generally of Buginese-Macassar People is very happy to eat this typical Makassar cuisine. This food is called Coto Makassar. I’m sure, although this food is not suitable for diet, but you will not suddenly fat by eating it just once in a while.


As long as you fans of cow and not too choosy about food, you will easily fall in love with this Makassar cuisine. Guess what? There's one nice thing when I ordered and ate a bowl of Coto Makassar. Everything can be adjusted to taste. Start by selecting contents of Coto Makassar’s dressing is based on taste. Whether it's only meat, only liver, meat plus liver, or mixed in which consists of meat and beef offal. You also no need to worry about the beef offal, it was cleaned and boiled.


Then you can add with lemon, fried onions, chili sauce, soy sauce and salt as you please. As the complement, Coto Makassar usually eaten with ketupat (diamond rice cake) or rice. In Makassar, there are many food stalls that make Coto Makassar as the main menu. If you come to Makassar, just ask the local people, which food stall that it has the most delicious Coto Makassar? You will get some instructions and a few names of food stalls. Because only in Makassar, the most stalls of Coto Makassar.

Tuesday Night (January 4, 2011), my friend treated me with some other friends at one of Coto Makassar food stall in Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. He just received honors from his great boss. In that Coto Makassar stalls, a mustache staff carry a tray of ketupat placed on his head. Hahaha, I'm kidding, he really was not the staff, he is my friend who treated me. He was desperate to be photographed by me with his new style.



Not only with his strange behavior, once again we draw attention in that food stall. This time not because our busyness by taking some pictures, not because the jokes which inviting our loud laughter, but it’s because we also propose a toast. Hmm, the thing that really unusual in that food stall.


Well, there is another surprise in the food stall. I never think that a tray of ketupat in front of me was nearly exhausted by ten people. Hooked or hungry, huh? Hehehe, but indeed a bowl of Coto Makassar will not satiate us if not equipped by ketupat.

It feels without that the time also speaking, increasingly late nights, laughter charts began to decline, eyes getting heavy, and we hurried home. I talk to my self, someday I'll eat Coto Makassar again. Just wait!



BAHASA INDONESIA

Hanya sebagian kecil orang saja yang merasa makanan ini aneh, utamanya pendatang. Terkadang mereka bahkan terlihat jijik. Meski tidak semuanya, tapi percayalah padaku, umumnya masyarakat bugis-makassar senang menyantap masakan khas Makassar ini. Makanan ini disebut Coto Makassar. Saya yakin, meski makanan ini tidak cocok untuk diet, tapi anda tidak akan mendadak gemuk hanya dengan sekali-kali menyantapnya.

Selama anda penikmat sapi dan tidak terlalu memilih-milih soal makanan, anda akan dengan mudah jatuh hati pada masakan khas Makassar ini. Tahu tidak? Ada satu hal yang menyenangkan bila saya memesan dan menyantap semangkuk Coto Makassar. Semuanya dapat disesuaikan selera. Mulai dengan memilih isi di kuahnya yang berdasarkan selera. Entah itu daging saja, hati saja, daging plus hati, atau campur yang di dalamnya terdiri atas daging dan jeroan sapi. Anda pun tak perlu khawatir dengan jeroannya, itu sudah dibersihkan dan direbus.

Selanjutnya anda boleh menambahkan dengan jeruk nipis, bawang goreng, sambal, kecap dan garam sesuka hati. Sebagai pelengkap, biasanya Coto Makassar dimakan dengan ketupat atau nasi. Di Makassar, ada banyak warung yang menjadikan Coto Makassar sebagai menu utamanya. Kalau ke Makassar, tanyakan saja penduduk lokalnya, dimana warung yang Coto Makassarnya paling enak? Anda akan mendapatkan petunjuk dan beberapa nama warung. Karena hanya di Makassar yang paling banyak warung Coto Makassarnya.


Selasa Malam (4 Januari 2011), seorang teman mentraktir saya dan beberapa kawan lainnya di salah satu warung yang ada di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. Traktiran itu sebagai acara syukuran telah menerima honor dari bosnya. Di warung Coto Makassar itu, seorang staf berkumis membawa sebaki ketupat yang ditaruh di kepalanya. Hahaha, aku bercanda, dia sungguh bukan staf, dia adalah teman yang mentraktirku. Dia sangat ingin difoto olehku dengan gaya barunya itu.

Tidak hanya dengan tingkah yang aneh, sekali lagi kami menarik perhatian di warung itu. Kali ini bukan karena sibuk foto-foto, bukan karena canda yang mengundang tawa keras kami, tapi karena kami juga bersulang. Hmm, hal yang sungguh tidak biasa di warung itu.

Di warung, ada kejutan lain lagi. Saya tidak menyangka kalau sebaki ketupat itu hampir habis di perut kami bersepuluh. Doyan apa lapar yah? Heh, tapi memang semangkuk Coto Makassar tidak akan mengenyangkan kami kalau tidak dilengkapi ketupat.

Tak terasa, waktu pun berbicara, malam kian larut, diagram tawanya pun mulai menurun, mata semakin berat, dan kami bergegas pulang. Saya mengatakan pada diri saya, kapan-kapan saya akan makan Coto Makassar lagi. Tunggu saja!

Ewako Visitors

Free counters!

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys