Monday, May 20, 2013

Sepenggal Malam dengan Sepiring Masakan Bergizi Khas Pesisir Indonesia

Story by. Ahmad Yani Hasti.

Aroma bumbu menyatu dengan gumpalan asap menyusup ke dalam penciuman. Di sana, ada sesuatu yang menggoda orang-orang untuk mampir. Di sebelahnya terdapat sebuah kipas dan di bawahnya telah bertumpuk arang yang membara. Warna lapisan kulitnya hingga potongan-potongan di dalamnya terlihat begitu segar.

Pengunjung yang mencicipi, lidahnya serasa tak ingin berhenti mengunyah daging ikan yang gurih tersebut. Memakannya selagi hangat sungguh memberikan kenikmatan yang lebih. Belum lagi sensasi pedas yang diciptakan oleh sambal yang masyarakat lokal sini, bugis-makassar, menyebutnya “cobek-cobek”.

Kamis petang (9/5), matahari mulai bergulir dan bersembunyi di balik dinding gedung yang saya singgahi. Penerangan-penerangan mulai dinyalakan. Dalam kesempatan itu, mulutku pun tengah asik menikmati salah satu dari sekian aneka masakan Indonesia tersebut. Di dalam sebuah warung makan yang hidangan utamanya adalah Ikan Bakar. Menu ini banyak dijumpai di warung-warung makan yang ada di Sulawesi Selatan.

Hal ini tak dapat dipungkiri, mengingat Sulawesi Selatan adalah bagian dari Indonesia. Negara tercinta ini merupakan negara kepulauan yang sebagian besar kawasannya merupakan wilayah pesisir. Sebanyak lebih kurang 2/3 Kota maupun Kabupaten yang terdapat di Sulawesi Selatan adalah kawasan pesisir. Yang mana bagi masyarakatnya, ikan laut adalah menu yang wajib ada di meja makan dinikmati sekeluarga.

Beragamnya budaya di Indonesia, membuat masyarakatnya memiliki corak yang juga berbeda-beda dalam mengolah ikan laut. Umumnya ikan dinikmati dengan cara dimasak, digoreng, atau dibakar. Beberapa daerah menikmatinya dengan tambahan cabe dan tomat yang dicincang, ada juga dengan tumisan sambal, bahkan sebagian orang mengolahnya menjadi abon ataupun makanan khas seperti yang ada di Sulawesi Barat yang disebut Pupuk Mandar.

Begitu banyak cara mengolah ikan, itu berarti tidak ada alasan untuk jenuh mengomsumsi lauk yang sarat gizi tersebut. Apalagi ada berbagai pilihan ikan dengan citarasa yang berbeda yang cukup mudah ditemukan oleh warga di wilayah pesisir. Jenis ikan yang populer menjadi menu harian di Sulawesi Selatan antara lain Ikan Bandeng (Milkfish), orang lokal sini menyebutnya Ikan Bolu. Selain itu, masih ada juga yang populer seperti Ikan Kakap, Ikan Cepa yang mirip Ikan Kuwe, Ikan Cakalang (Shipjack Tuna), Ikan Baronang (Rabbit Fish), serta Ikan Katombo yang disebut juga Ikan Kembung (Mackerel). Kalau di warung-warung makan, kebanyakan ikan tersebut disajikan dengan dibakar ataupun dimasak dengan kuah berwarna kuning. Makanan berkuah kekuningan itu dikenal dengan sebutan Pallumara oleh lokal Makassar, dan Nasu Bale oleh lokal Bugis.

Foto: Ahmad Yani Hasti --- Kamis (9 Mei 2013), saya tengah menikmati hidangan ikan bakar di salah satu warung makan di Parepare, Sulawesi Selatan.

Hanya saja terkadang harganya yang sulit dijangkau oleh sekelompok orang sehingga menu ikan diganti dengan lauk-pauk lainnya. Padahal ikan terutama yang habitatnya di laut adalah hewan yang memiliki kandungan gizi cukup lengkap.

Mengetahui kandungan yang ada disetiap potongan ikan laut ibaratnya suatu kesempatan untuk Jelajah Gizi yang luar biasa. Nilai gizi yang ada di dalamnya memang yang paling kompleks dibandingkan hewan-hewan lainnya. Sudah banyak ahli gizi dan artikel yang mengungkap kekayaan gizi pada hewan laut tersebut.

Ikan laut mengandung protein yang bermanfaat untuk regenerasi sel dalam tubuh. Proteinnya mudah dicerna sehingga baik untuk bayi dan anak-anak. Sangat bagus untuk pertumbuhan anak dan sistem kekebalan tubuh pada orang dewasa. Ikan laut juga banyak mengandung Omega-3. Dimana zat tersebut berfungsi meningkatkan kecerdasan otak anak dan mencegah penurunan fungsi otak ataupun kepikunan bagi orang dewasa.

Dalam ikan laut pun terdapat bermacam-macam vitamin yang penting untuk membantu pertumbuhan serta menjaga kesehatan tubuh. Selain itu, ikan laut kaya akan mineral seperti zat besi untuk mencegah tubuh dari kekurangan darah (anemia), yodium yang mencegah penyakit gondok, serta selenium yang berperan menjadi antioksidan untuk melindungi tubuh dari radikal bebas.

Namun daya tahan ikan relatif singkat, maka untuk mendapat banyak manfaat dari ikan laut, dianjurkan memilih ikan yang masih segar dan mengolahnya secara cepat. Tak hanya itu, pengolahannya juga harus diperhatikan. Kandungan mineral seperti yodium pada ikan laut dapat berkurang secara drastis dengan cara dimasak apalagi dengan suhu tinggi. Ini terjadi akibat adanya penguapan mineral seperti yodium. Jadi sebaiknya ikan laut jangan dibuat terlalu matang, dan bila perlu tambahkan garam secukupnya untuk menjaga kadar yodium pada masakan.

Jarum jam pun terus berputar, saking nikmatnya makanan yang saya cicipi di warung itu membuatku lupa waktu. Sementara malam telah memberi isyarat untuk saya pulang ke rumah. Walau masakan itu sesaat membuatku amnesia waktu, tetapi nikmatnya terus menyadarkanku akan berkah yang terdapat dalam sepiring ikan laut yang dibakar tersebut. Sudah sepatutnya warga yang tinggal di wilayah pesisir Indonesia terus merasa bersyukur, karena berkah yang luar biasa sudah datang dimulai dari apa yang senantiasa ditemui di pagi hari, dalam sepiring makanan yang telah disantap. Ikan laut yang kaya akan gizi, kadang-kadang tanpa disadari, sesungguhnya telah membantu kita menjalani aktivitas sehari-hari.

Ewako Visitors

Free counters!

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys